• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

Berhasil lulus pada tahun 2012 dari Geofisika UGM, pria kelahiran Indramayu, 22 Maret 1990 ini pernah menjadi geophysicist assistant pada tahun 2012 hingga 2013 dan menjadi geophysicist pada tahun 2015 di PT Antam (Persero) Tbk Unit Geomin.

Setelah dua tahun malang-melintang meramaikan project-project geofisika sebagai independent geophysicist, pria yang tidak tenang jika pemutar musik kesayangannya ketinggalan ini siap untuk melakukan riset-riset tentang laut dalam di Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI.

Profile

Deepak Bhagya

Personal info

Abi Dzikri Alghifari

Phone number: +(62) 81223001161
BBM PIN: D7DC98CC
Website: www.abialghifari.com
E-mail: abi.alghifari@gmail.com

RESUME

Know more about my past


Employment

  • 2018-now

    Geophysics Researcher Candidate @ P2LD LIPI

  • 2016-2017

    Independent Geophysicist

    Notable Project:

    Gold Exploration using Magnetics Method at Nanga Pinoh, Kalbar (2017) -

    Burried Utility Locating using GPR Method at Jakarta, DKI Jakarta (2017) -

  • 2012-2013; 2015-2016

    Geophysicist @ Geomin Unit (Antam)

    Notable Project:

    Gold Exploration using TDIP Method at Kelantan, Malaysia (2016) -

    Bauxite Exploration using GPR Method at Tayan, Kalbar (2015) -

    Nickel Exploration using Resistivity Method at Buli, Malut (2013) -

    Gold Exploration using Magnetics Method at Oksibil, Papua (2012) -

Education

  • 2007-2012

    Universitas Gadjah Mada (Geophysics)

    Notable Organization:

    - Himpunan Mahasiswa Geofisika [HMGF UGM] (2007-2012)

    - Society of Exploration Geophysicicst (SEG) Student Chapter (2007-2012)

  • 2014-2007

    MAN Yogyakarta II (Science)

    Notable Organization:

    - Kelompok Ilmiah Remaja (2014-2017)

    - Pramuka (2014-2015)

  • 2001-2004

    MTs YAPIN Kertasemaya

    Notable Organization:

    - Pramuka (2001-2002)

    - Palang Merah Remaja (2002-2003)

Skills & Things about me

Project Managing
70%
Mineral Prospecting, Environmental, & Geotechnical Survey
Data Acquisition & Processing
90%
Resistivity, TDIP, CS-AMT, Magnetics, Gravity, & GPR Data
Data Interpretation & Reporting
80%
Resistivity, TDIP, CS-AMT, Magnetics, Gravity, & GPR Data

Blog

Projects Portfolio, Gadget, Music Review, Manchester United, & Life


February 20, 2018

Live in Ambon: So Far

Suasana teluk Ambon di sore hari
Sebelum gue mau cerita lebih lanjut, gue mau posting catatan hari pertama gue di Ambon.

Catatan hari pertama gue (Senin [12/2]) yang belum sempat gue posting dan sayang juga kalo gue buang
Hari Pertama Kerja: Perkenalan di Lingkungan yang Baru
Hari pertama gue kerja termasuk hari yang cukup padat. Jam 8 kami sudah berada di kantor yang jaraknya cuma selemparan batu aja dari mess. Sekitar sejam kemudian kami langsung merekam sidik jari dan iris mata di mesin absen. Habis itu langsung rapat dan berkenalan dengan pegawai struktural P2LD (minus Pak Augy karena beliau masih di Australia). Di rapat tersebut kami juga diberikan lab tempat kami bergabung. Gue masuk di laboratorium Geologi. Oya, yang bikin kami tambah semangat adalah kami diberikan kesempatan untuk mengikuti sertifikasi selam. Asiknya, kami hanya membayar biaya sertifikatnya saja, biaya lainnya ditanggu oleh LIPI. Yeay!
Selesai rapat kami diajak berkeliling gedung P2LD. Setelah itu kami diperkenalkan dengan Intra LIPI, sebuah sistem informasi khusus internal LIPI. Setelah makan siang gue masuk ke lab Geologi yang ternyata hanya ada teknisi yang hadir, yaitu Pak Kris. Mbak Frilla dan Mas Hary ternyata sedang melanjutkan studi. Gue dan Pak Kris akhirnya diskusi tentang kegiatan-kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Lab Geologi selama ini.

Hari Kedua dan Ketiga: Sesi Kelas Pelatihan Selam
Sesi kelas dipimpin langsung oleh instrukturnya, yaitu Pak Freddy. Penjelasannya cukup asik. Beliau juga cukup sabar untuk mengulangi penjelasan atau menjawab pertanyaan ketika kami tidak memahami salah satu materinya.
Setelah itu, kami pergi ke kota. Masih di jam kerja. Jangan berprasangka buruk dulu! Kami pergi ke sana berkaitan dengan isi perut kami. Iya, gaji di sini akan dikirim ke dalam rekening bank BTN. Karena tidak ada satupun dari kami yang mempunyai akun BTN, kami berenam meluncur ke sana.
Salah satu mater selam. Bahkan cara masuk ke air gak bisa asal nyebur.
Long Weekend: Exploring Ambon
Mungkin bagi yang sudah melalang buana lama di Ambon, kegiatan kami di tiga hari libur kemarin tidak bisa disebut eksplorasi. Tapi paling tidak kami sudah mengunjungi dua-duanya mal yang ada di Ambon: Ambon City Center (ACC) dan Maluku City Mall (MCM). Terbilang cukup lengkap, karena kita bisa menemukan gerai-gerai resmi, misalnya saja Ramayana, Gramedia, XXI, dan lain-lain. Yang lebih bermanfaat lagi kami sudah menghapal beberapa rute angkot yang ada di Ambon.
Oya, yang paling menarik adalah gue bisa melakukan salah satu hobby gue: lari. Nilai plusnya adalah kita bisa berlari dengan pemandangan yang wah. Sehat dapat, suasana asik teluk Ambon juga dapat. Oya, di Minggu sore gue mencoba menjajal hobby gue yang lain: renang. Gue menemukan dua spot, yaitu kolam renang Kodam Pattimura (yang sayangnya ternyata kolam dewasa sedang tutup) dan kolam renang Politeknik.
Sebenarnya gue masih pengen mengunjungi beberapa pantai di Ambon. Tapi akhirnya gue urungkan niat gue karena sesi lapangan selam juga akan diadakan di salah satu pantai di Ambon.

Track lari pertama gue.

Hari Pertama Minggu Kedua: Bertemu dengan Kepala Puslit
Long weekend membuat semangat sedikit kendur. Biarpun demikian, jam 8 kami sudah berada di kantor. Jam 9 sudah berada di ruangan rapat dengan pejabat struktural juga, kali ini lengkap dengan Pak Augy, kepala puslit laut dalam. Gue sudah berekspektasi bahwa kami akan ditanyakan tentang hal-hal teknis. Di luar dugaan, ternyata Pak Augy bahkan tidak menanyakan nama kami. Alasannya, nanti juga kenal sendiri, karena biarpun sekarang memperkenalkan diri selesai rapat juga bakalan lupa. Masuk akal sih, karena jujur gue juga sudah lupa beberapa nama pejabat struktural yang baru 6 hari sebelumnya saling berkenalan. Gue juga yakin lambat laun bakalan kenal juga.
Yang bikin gue berdecak kagum adalah ternyata Pak Augy membagikan 6 buku yang tertumpuk di meja beliau. Bukan, bahkan tidak ada satupun dari enam buku itu yang berkaitan dengan laut dalam. Buku-buku itu menceritakan tentang pejabat eksekutif di Indonesia yang berani untuk melakukan perubahan. Perubahan yang tidak hanya dalam jangka pendek, bahkan untuk jangka panjang. Pemimpin-pemimpin tersebut berani untuk melawan birokrasi kusut yang sudah mendarah daging sekian lama di Indonesia. Intinya adalah buku tersebut mengajak kita untuk bersama-sama mengubah Indonesia tidak hanya dalam perubahan yang jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.
Sorenya gue mencoba lari juga. Kali ini mencoba rute baru: menyeberang Jembatan Merah Putih. Ini adalah sensasi baru yang mendebarkan. Oke, pemandangannya asik. Tapi gue harus benar-benar waspada karena bisa saja gue tertabrak kendaraan dari belakang mengingat tidak adanya trotoar di sana. Gak cuma itu, goyangan jembatan cukup terasa ketika gue berada di bagian tengah jembatan. Tapi, cukup sepadan lah.

Track lari gue menyeberang jembatan merah putih
Gak lengkap kalo gak selfie dulu
Hari Kedua Minggu Kedua: Sesi Lapangan Selam
Tidak langsung ke pantai karena akan sangat berbahaya. Kami berenam (minus Fadly [sudah punya sertifikat], plus Furkan [mahasiswa TA di P2LD]) belum pernah sekalipun menjajalnya. Tidak lucu jika ada yang terbawa arus karena belum bisa teknik selam. Akhirnya kami diajak Pak Freddy untuk belajar di kolam renang Politeknik.
Setelah pereganagan di pinggir kolam, kami langsung disuruh untuk berenang 1,5 kali bolak-balik kolam. gak sampai di situ, kami harus mengayunkan kaki kami dengan posisi tangan di atas dalam waktu beberapa menit. Gue beberapa hari yang lalu juga berenang di tempat sama, tapi tetap saja paha gue jadi tegang selesai melakukan kedua gerakan tersebut.
Sesi selanjutnya adalah belajar mengayunkan kaki kami. Gerakan kaki yang benar membuat proses penyelaman menjadi lebih efisien. Berikutnya dicoba menggunakan mask, snorkel, dan fin. Setelah diajarkan bagaimana teknik yang benar, kami menjajal snorkling bolak-balik kolam. Kami harus membiasakan bernapas lewat mulut dan butuh usaha yang cukup lumayan sih.
Di sela-sela sesi latihan selam
Sesi yang ditunggu-tunggu, yaitu menyelam. Eits, tunggu dulu. Kami diajarkan terlebih dahulu bagaimana memasang peralatan beserta urutan-urutannya, bagaimana cara mengeluarkan air yang ada di mask, dan teknik lainnya. Sesi praktik pun tiba. Kami dipasang-pasangkan dan menyelam menyeberangi kolam dengan tangan kami saling bergandengan dengan pasangan kami. Di seberang kolam, kami disuruh duduk di dasar kolam untuk mempraktikkan beberapa teknik.
Yang pertama adalah cara membuang udara di mask. Kami diperintahkan untuk membuka mask kami satu per satu. Setelah itu mask dipasang kembali dan air yang berada di dalam mask dikeluarkan. Setelah semua sudah mendapat giliran dan sudah OK, kami mempraktikkan teknik kedua. Kami diberi tanda untuk membuka inflator (?) yaitu alat untuk bernapas di mulut dan memasukkannya kembali ke dalam mulut. Air yang mengisi inflator harus segera dikeluarkan agar kita bisa bernapas kembali, salah satu caranya adalah dengan meniup inflator tersebut.

Kali ini dengan peralatan lengkap
Karena dirasa masih belum cukup, Pak Freddy menjadwalkan sesi latihan di kolam lagi besok.

December 09, 2017

Lolos CPNS LIPI!


Ucapan Selamat dari Akun Resmi Twitter LIPI (@lipiindonesia)

Tiga tahun lalu di bulan-bulan ini mungkin gue terpuruk. Waktu itu gue ikut CPNS LIPI 2014. Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) berjalan dengan mulus dengan skor yang terbilang tinggi: 378. Tetapi akhirnya gue kecolongan di Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) yang mengakibatkan nilai akhir gue terjun bebas. Gue gak terpilih akhirnya. Sakit memang.

Harapan kembali muncul ketika tahun ini LIPI membuka penerimaan CPNS. Gue yang memang sedang tidak ada proyek survei bertekad untuk all out. Untuk menaklukan SKD, gue sebulan suntuk berkutat dengan buku tentang tes CPNS. Mulai dari perlawanan Sultan Babullah memimpin Ternate untuk Melawan Portugis hingga alasan mengapa UUD 45 belum bisa dijalankan secara penuh pada tahun 1945 sampai 1949. Mulai dari siapa saja yang merumuskan Pancasila hingga bagaimana tiap-tiap sila di Pancasila diamalkan. Mulai dari latihan soal deret angka sampai logika matematika. Hasilnya gak sia-sia: gue berada di urutan ketiga dengan skor 381.

Hasil SKD CPNS LIPI 2017 untuk formasi yang gue lamar

Dengan waktu yang mepet hingga tes SKB 1 (SKB Computer Assisted Test [CAT]), gue mempelajari bahan-bahan yang gue perkirakan bakal. Mulai dari UU ASN, segala hal tentang LIPI, segala hal tentang Pusat Penelitian Laut Dalam, hingga beberapa penelitian geofisika yang berkaitan tentang laut dalam. Soal-soal yang keluar ternyata jauh dari ekspektasi: soal-soal tentang dasar penelitian. Gue sangat kecewa ketika skor yang gue dapat adalah 290. kekecewaan gue berkurang ketika ternyata skor tertinggi dari semua peserta adalah 320. Not so bad!

Selang dua hari setelahnya siap-gak-siap gue harus mengikuti SKB selanjutnya, yaitu wawancara. Berada di ruangan wawancara yang sama dengan tiga tahun lalu membuat ingatan gue melayang ke waktu itu. Dan itu membuat gue grogi demi membayangkan bagaimana suasana wawancara yang santai ketika itu membuat gue terlena. Gue hanya bisa berdoa semoga hal tersebut tidak terulang dan berharap kali ini berjalan dengan sukses. Gue harus membuang jauh pikiran itu dan fokus dengan tiga pewawancara di depan gue. 

Suasana Wawancara CPNS LIPI 2017 (Image credit: official twitter BOSDM LIPI [@bosdmlipi])


Pada akhirnya gue merasa bersyukur bahwa wawancara mengalir dengan sangat alami. Gue seperti dimudahkan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan karena ternyata kasusnya pernah gue alami. Dibuka dengan gue memperkenalkan diri gue, pengalaman kerja gue, pencapaian yang pernah gue dapat, dan lain-lain. Dilanjutkan dengan pertanyaan inovasi yang pernah gue lakukan dan gue jawab dengan pencapaian tim geofisika Geomin Antam yang menjadi juara 1 di Konvensi Mutu Geomin 2015 dengan stang GPR-nya. Pertanyaan seperti masalah yang pernah terjadi di lapangan dan bagaimana gue mengatasinya bisa gue jawab dengan kasus penolakan warga yang areanya dilewati tim survei. Salah satu solusi yang gue utarakan adalah dengan mengikutkan warga yang menolak menjadi tenaga lokal. Solusi seperti itu memang masih hangat di pikiran gue karena baru terjadi di tahun ini di proyek sebelumnya. Beberapa pertanyaan yang lain mungkin gue rasa jawabannya belum memuaskan tapi secara umum kali ini gue merasa bahwa wawancara kali ini sukses. Biarpun demikian, gue tetap berusaha untuk tetap tidak terlalu percaya diri karena bisa saja kandidat yang lain mempunyai visi jawaban yang lebih bagus dari gue. Tiga minggu kemudian gue isi dengan berdoa, berdoa, dan berdoa. Karena gue yakin bahwa sekeras apapun usaha jika memang Tuhan belum mengizinkan, kita bisa apa?

Tiba di hari yang dinantikan, dua hari yang lalu. Dan hasilnya adalah seperti ini.

Hasil Integrasi SKD dan SKB CPNS LIPI 2017 untuk formasi yang gue lamar

Sejak kecil gue bermimpi menjadi peneliti. Gue bersyukur bahwa gue diberikan kesempatan untuk bisa mengabdi pada negeri ini melalui LIPI. Tentunya kesempatan ini tidak akan gue sia-siakan. Gue berharap bahwa gue bisa amanah dalam mengemban tugas ini.

Terima kasih gue ucapkan bagi kedua orang tua gue yang tidak henti-hentinya mendoakan gue dan selalu mendukung dan terus percaya dengan apapun yang gue lakukan, kakak, adik-adik, dan saudara-saudara gue juga, guru-guru gue dari SD sampai SMA, dosen-dosen Geofisika UGM, teman-teman seperjuangan, dan pastinya Geofisika UGM 2007!

Akhir kata: Bismillah!

November 09, 2017

Kane Brown - Self Titled (2016) Album Review

Pertama dengar nama Kane Brown adalah ketika gue sedang menelusuri tab Trending di Youtube App. Kebetulan pilihan lokasi untuk video trending gue atur ke US dan ada salah satu lagu Kane Brown yang nongol. Gue yang memang sedang tergila-gila dengan musik bergenre country bergegas untuk mengklik video tersebut. Dan ternyata asik. Gue akhirnya mendengarkan seluruh lagu di albumnya. Ini review gue.

Kane Brown - Self Titled Album
Kita tahu kalau ini adalah lagu country bahkan ketika mendengarkan di detik-detik awal lagu pertama di album ini, Hometown. Bercerita tentang bagaimana Brown ingin membuat hometown-nya bangga dengan karya-karya yang ia ciptakan. Di lagu ini, bahkan, Brown menyebutkan northwest Georgia dan Chattanooga, Tennessee yang menjadi kota kelahiran dan kota tempat dia tumbuh di liriknya.

Aroma country terasa lebih kental di lagu kedua. Alunan banjo terdengar di detik pertama What Ifs. Kali ini Brown tidak sendirian, ditemani Lauren Alaina. Teman sekolah Brown ketika di Georgia dan sekaligus runner-up American Idol seasen 10 ini dengan suaranya yang khas menambah asiknya lagu ini. Lagu ini bercerita tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering diungkapkan oleh sepasang kekasih.

Learning lebih bernuansa hiphop. Lagu ini mengajarkan kita untuk belajar berlapang dada dengan apapun yang terjadi di masa lalu kita, seburuk apapun itu.

Inilah lagu terfavorit gue di album ini: Thunder in The Rain. Brown menceritakan tentang bagaimana yang terjadi ketika dua hati saling bertemu. Every time our hearts collide/I can feel our love come alive/It's insane, baby/We're like thunder in the rain.

Pull It Off lebih bernuansa rock dengan tempo yang cepat. Bukan termasuk lagu terfavorit gue di album ini tetapi gue yakin beberapa orang akan mengapresiasi usaha Brown untuk memperkaya genre musik di album ini.

Lagu semacam Cold Spot inilah yang membuat gue suka dengan music country. Di lagu bertempo lambat ini, Brown menceritakan tentang masa kecilnya. Selepas pulang sekolah dia selalu singgah di toko milik kakeknya, Cold Spot. Di tempat ini dia banyak belajar dari kakeknya: belajar tentang hidup. It was heaven on earth when my world was hell/And the big stores came and the business failed/But all my memories are alive and well/At the cold spot/Oh yeah/At the cold spot/Take me back to the cold spot.

Sekilas Ain't No Stopping Us Now mirip dengan Leave the Night On-nya Sam Hunt. Keduanya memang bertema sama: Summer dan Being Wild.

Comeback menceritakan tentang cerita lama yang bersemi kembali. Di sini Brown berhasil memainkan kata-kata di liriknya: We could make a comeback if you come back.

Rockstars menceritakan masa-masa liar ketika sepasang kekasih bebas mengekspresikan dirinya dengan menyanyikan lagu-lagu favoritnya. We never ended up on the MTV/Or heard our voices on a CD/But in your eyes and in my arms/We were each other's rockstar.

Better Place ini mungkin lagu yang mungkin bikin hati wanita meleleh. Menceritakan tentang seorang pria yang siap mewujudkan hidup wanitanya seperti yang diimpikan hingga akhir waktu. Pria tersebut ingin menjadikan dunia sang wanita "better place".

Di Granddady's Chair, Brown menceritakan tentang kerinduan terhadap kakeknya. Kakeknya yang selalu memperlakukan setiap orang dengan cinta. Kakeknya yang mengajarkannya tentang hidup. I hope one day when you're looking down on me / I make you smile, I make you proud / I may not be there now / But I hope one day I'll be man enough to be sitting there, in my Granddaddy's chair,

Oke. Cukup sekian review dari gue. Yang jelas, bagi pecinta musik country gue rekomendasikan album ini. Album ini akan sangat sayang untuk dilewatkan.

 


July 18, 2017

Unboxing Lenovo Yoga 520 (14IKB-AFID version)

Satu screenshot dari video unboxing gue.
Seperti yang sudah gue bahas sedikit di postingan gue sebelumnya, sekitar beberapa minggu ini gue sedang mencari laptop baru gue untuk menggantikan Sony Vaio gue. Pilihan gue sebenarnya banyak banget di kisaran 10 juta plus minus 2 juta. 

Ada Microsoft Surface Pro 4 seharga 12 juta yang bakalan asik buat diajak mobile, tapi gue mundur karena gue harus menambah 2 juta lagi untuk membeli keyboardnya. 

Ada juga Lenovo Legion Y520 di harga 11 juta yang bakalan asik buat gaming dengan nVidia gtx 1050-nya, tapi akhirnya gak gue pilih karena gue sudah terbiasa menggunakan laptop dengan layar touchscreen. Lagipula Legion memiliki tubuh yang relatif bongsor yang bakal menyusahkan jika harus dibawa bepergian. 

Gue sedikit hampir memilih Asus Zenbook Flip UX360CA di harga 10,2 juta karena bodinya tipis dan layarnya bisa ditekuk 360 derajat untuk dijadikan tablet. Gue mengurungkan niat karena ternyata processornya cuma dapat core m3 yang walaupun bagus di baterainya yang tahan lama, bakalan ketetran kalau nantinya gue butuh untuk software yang cukup berat. Gue harus menambah sekitar 3 juta untuk dapat versi core i5-nya, itupun memori VGA-nya integrated. 

Akhirnya gue beralih ke Lenovo Yoga 510 dengan harga sekitar 9.5 hingga 10 juta dengan processor i5-7200 dan AMD Radeon R16M-M1-30. Di samping itu, layarnya juga bisa diputar 360 derajat. Sangat cocok buat gue. Tapi ternyata awal Juli ini Lenovo merilis versi update dari 510, yaitu Lenovo Yoga 520. Sebagian besar sama, processor juga sama, tapi dengan GPU yang lebih tinggia, nVidia GeForce 940mx. Sudah gitu gue mendapatkan pen stylus aktif.

Oke, langsung saja kalau mau lihat video unboxing gue di bawah ini atau klik link ini untuk melihatnya di Youtube.



Yang ada di dalam box adalah sebagai berikut.
  1. Unit laptopnya
  2. Charger
  3. Pen stylus aktif dengan aksesori untuk menempelkan ke port USB plus 1 baterai AAAA
  4. Kartu garansi
  5. Buku manual

July 02, 2017

Pinoh Project (Part 4): Standby Lama yang Bikin Bosan, Akusisi Lagi, dan Penutup.

Pemandangan tepi Sungai Pinoh yang gue liat ketika nongkrong pas standby. Yang menarik adalah warna airnya bisa beda: keruh dan jernih. Yang keruh berasal dari Sungai Sokan karena banyak tambang tradisional di tepi sungai, sedangkan yang jernih dari sungai satunya.
Kegiatan yang paling membosankan? Pasti menuggu. Kalau waktunya jelas sih mending, ini waktunya gak pasti. Jadi karena area di Teluk Pongkal masih belum clear, sekitar 15 persen, karena warganya menolak untuk survey dilakukan, tim terpaksa menunggu di Sokan, menginap di rumah warga yang kebetulan masih saudara sama karyawan perusahaan juga. Oya, Mas Bambang, geologis dari pihak perusahaan klien harus pulang karena ayahnya sedang di rumah sakit. Jadi tinggal Gue dan Muklis, sama satu orang humas, Pak Dami.

Sosialisasi
Setelah seminggu menunggu, akhirnya tanggal 25 April 2017 terlaksanalah acara sosialisasi yang dipimpin oleh Pak Camat Kecamatan Sokan dan Kapolsek Sokan. Gue juga gak ikut acara sosialisasinya, yang jelas 2 anggota polisi yang rencananya akan ikut bersama tim gue dan Muklis tidak jadi diturunkan. Dengar-dengar pihak desa menjamin untuk tim survey bahwa survey aman dilakukan.

Akusisi berujung kasus
Besoknya ketika dua tim berjalan ke titik awal pengukuran, sudah ada beberapa orang yang menjaga tanah mereka dan tetap menolak. Akhirnya diputuskan untuk tetap diukur walaupun lompat-lompat. Lusanya, atau tanggal 27 April, kejadian yang sama terjadi, kali ini lebih parah. Tim gue sih lancar, tanpa kendala. Tapi timnya Muklis kena masalah. Belum juga pengkuran dimulai, satu orang warga mengancam akan membunuh salah satu kru jika pengukuran tetap dilakukan. Akhirnya pengukuran dihentikan di hari itu juga.

Pak Lekon, krunya Muklis, yang merasa gak terima diancam bunuh melaporkannya ke kepala adat. Akhirnya dilaksanakan sidang adat di tingkat Dusun yang menghukum si pengancam dengan membayar 150 ribu. Tidak terima dengan hukuman yang dianggap tidak membuat jera, kasus dibawa ke sidang adat tingkat kecamatan. Gue dan Muklis akhirnya balik ke Sokan, standby lagi menunggu kabar selanjutnya.

Standby Lagi
Tiga minggu berikutnya, gue melakukan kegiatan yang berulang setiap harinya: bangun tidur, sarapan, nongkrong, shalat dhuhur, makan siang, nongkrong lagi, tidur siang, shalat ashar, nonton TV, shalat maghrib, shalat Isya, nonton TV, tidur. Sekitar pertengahan Mei ada sosialisasi lagi, kali ini dari anggota dewan Kabupaten, dan hasilnya tetap nihil. Seminggu kemudian diputuskan untuk mengukur sisa volume kerja di area lain: Desa Tanjung Mahung.


 Salah satu tingkah anak Sokan yang sempat gue abadikan pas standby menggunakan setting TimeShift Video di Xperia Z3 gue.

Akusisi di Tanjung Mahung
Tanggal 24 Mei-nya tim akhirnya moving ke Tanjung Mahung yang masih masuk kecamatan Sokan juga. Lokasinya di sebelah selatan Desa Teluk Pongkal. Satu yang bikin gue suka dari desa ini adalah lingkungannya yang lebih bersih dan rapi. Karena sisnya cuma sekitar 14 km dan mengingat sudah H-3 puasa, Gue dan Muklis memutuskan untuk mengerjakannya hanya dalam waktu 3 hari dan menghabiskan volume kerja yang banyak di dua hari pertama. Dan beruntung semuanya lancar.

Tim Muklis di hari ketiga, kiri-kanan: Leo, Udin, Deni, Rio, Muklis.

Tim gue di hari ketiga, kiri-kanan: Sabirin, Sonsit, gue, Darlen, dan Sindin.
Selesai di Tanjung Mahung, gue harus menunggu beberapa hari lagi menunggu kepastian karena ternyata klien masih ingin mendapatkan data di Teluk Pongkal. Gue baru bisa pulang pada tangal 2 Juni 2017 setelah kecil kemungkinan pengukuran dilakukan.

Penutup
Ini adalah salah satu project yang menurut gue cukup menguras pikiran. Jika pada project-project sebelumnya, biasanya klien menekan kita agar survey tidak memakan waktu. Tapi pada project ini klien cenderung lambat dalam memecahkan masalah non teknis. Kebijakan klien yang kurang tepat menurut gue merugikan klien itu sendiri karena biaya sewa alat tetap dihitung meskipun alat dalam keadaan standby. Sisi baiknya, ada tambahan buat gue karena walaupun gak full, gue tetap dicharge pas standby. Alhamdulillah. Saatnya berburu pengganti Sony Vaio gue yang udah butut. Hehe.

June 30, 2017

Pinoh Project (Part 3): The Acquisition!

Peta Rencana Akuisisi Data Magnetik
Total panjang lintasan yang muysti gue dan Muklis ukur adalah 96 km. Karena kecepatan akusisi skeitar 2 km per alat per hari, rencananya project selesai dalam waktu 24 hari. Itu ternyata cuma di atas kertas, karena pada kenyataannya gue baru pulang awal Juni. Tapi bukan karena masalah teknis, ternyata lebih karena masalah non teknis. Biar gak amburadul, postingan gue bikin berdasarkan waktu.


22 -29 Maret 2017: Teluk Pongkal
Panjang setiap lintasan pegukuran 6 km dengan jumlah sebanyak 16 lintasan. Akan sangat memakan waktu jika dikerjakannya per lintasan. Di samping waktu, tenaga juga akan habis untuk perjalanan ke titik pertama jika lokasinya sudah jauh dari camp. Jadi akhirnya diputuskan untuk membagi menjadi 3 area dengan camp masing-masing. Delapan hari pertama gue nge-camp di salah satu rumah di Desa Teluk Pongkal, sisanya bakal dilanjutkan di camp selanjutnya.
Tim magnet di salah satu lintasan survey dengan latar belakang bukit berlitologi Granit di selatan. (Kiri-kanan: Sada, Okol, Sendorik, Gue, dan Koman)
Survey di desa ini ternyata tidak berjalan mulus. Hari pertama okelah, tim gue dan tim Muklis bisa selesaikan masing-masing 2 km. Hari kedua masalah dimulai, ketika kita mulai jalan ke titik awal, kami sudah dihadang oleh dua orang. Kita sudah jelasin sesimpel mungkin kepada mereka apa yang bakal dilakuin dengan alat magnet ini, kru lokal pun ikut jelaskan dengan bahasa mereka. Ternyata tetap saja mereka menolak area mereka untuk diukur. Bahkan ketika kami sudah janji untuk tidak mengukur di area mereka dan hanya izin lewat, mereka menolak. Gue beranggapan bahwa mereka takut ketika lewat itu kami ukur juga. Ketika gue ajak untuk ikut kita hingga batas area mereka, tetap aja menolak, mereka mau kalo mereka juga dibayar. Yaelah! Akhirnya kami mengalah, jalan memutar. Gak ingin kejadian itu terulang, besok-besoknya gue sudah pegang area mana saja yang pemiliknya melarang untuk diukur. Setelah diskusi dengan Pak Dami, orang humas perusahaan, kami membiarkan area yang belum terukur dan langsung berpindah ke area selanjutnya sementara akan dilakukan sosialisasi kembali kepada warga desa.

31 Maret - 9 April 2017: Dukuh Kepori
Mungkin di camp ini gue paling betah. Gue kasih alasannya di foto-foto di bawah.
Bisa main volley sepulang dari lapangan.
Kalo sudah bosan dengan mie, sarden, dan kornet, gue bisa makan ikan bahung, yang kadang-kadang ditangkap oleh si Agun, anaknya Pak Irmansyah, pemilik rumah yang dijadikan camp.
Senjanya. Cuma di dukuh ini, senja gak ketutup sama hutan. Sore-sore berasa asik.
Gue gak bilang kru di area lain jelek, tapi gue rasa kru di sini paling solid. (Kiri-kanan: Kere, Rijal, Nur, Onjul, dan Gue)
11 - 18 April 2017: Sungai Talas
Gak terlalu banyak yang bisa gue tulis untuk area ini selain fakta bahwa lokasinya cukup sulit karena banyak tebing yang cukup tinggi di bagian utara.
Hahaha.. Panjat tebing euy..
Dan juga fakta bahwa ketika bagian utara sudah kelar dan beralih ke bagian selatan, ternyata Sungai Sokan sedang pasang. Mau gak mau kami harus memakai sampan untuk menyeberangnya.
Timnya Muklis yang akan berangkat ke lapangan. (Kiri-kanan: Bapaknya Sindra, Muklis, Sindra, Sada, Lekkon, Yadi)
Tim gue sedang beraksi. (Kiri-kanan: Sadarudin, Seper, Ason, Jon)
Setelah selesai di daerah sini selesai, gue mendapat kabar bahwa sosialisi untuk Desa Teluk Pongkal belum dilakukan, akhirnya gue standby dulu di Nanga Sokan. Kota kecamatan itu dipilih karena di sana ada sinyal sehingga mudah untuk komunikasi. Gue tutup dulu untuk bagian ini.

Services

What can I do


Mineral Prospecting Survey

Mineral exploration, such us gold, bauxite, and nickel using geophysical methods.

Notable Project: Gold Exploration using TDIP Method at Kelantan, Malaysia (2016).

Environmental Survey

Geophysical Survey for envoironmental purpose, such as groundwater exploration and groundwater contamination investigation.

Notable Project: Groundwater Exploration using Resistivity VES Method at Lebak, Banten (2014).

Geotechnical Survey

Geophysical Survey for geotechnical purpose, such as utility locating (e.g.: burried pipeline) and bedrock depth locating for building construction purpose

Notable Project: Burried uitility locating at Jalan Gatot Subroto, Jakarta (2017)

Contact

Get in touch with me


Address/Street

Kongsijaya 02/01, Widasari, Indramayu 45271

Phone number

+(62) 81223001161

Website

www.abialghifari.com