• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

Berhasil lulus pada tahun 2012 dari Geofisika UGM, pria kelahiran Indramayu, 22 Maret 1990 ini pernah menjadi geophysicist assistant pada tahun 2012 hingga 2013 dan menjadi geophysicist pada tahun 2015 di PT Antam (Persero) Tbk Unit Geomin.

Penyuka gadget yang satu ini sekarang menjadi geophysicist yang independen dan siap untuk meramaikan project-project geofisika.

Profile

Deepak Bhagya

Personal info

Abi Dzikri Alghifari

Phone number: +(62) 81223001161
BBM PIN: D7DC98CC
Website: www.abialghifari.com
E-mail: abi.alghifari@gmail.com

RESUME

Know more about my past


Employment

  • 2016-now

    Independent @ Geophysicist

  • 2015

    PT. Antam (Persero) Tbk, Unit Geomin @ Geophysicist

  • 2012-2013

    PT. Antam (Persero) Tbk, Unit Geomin @ Geophysicist Assistant

Education

  • 2007-2012

    Universitas Gadjah Mada @ Geophysics

  • 2014-2007

    MAN Yogyakarta II @ Science

  • 2001-2004

    MTs YAPIN Kertasemaya

Skills & Things about me

photographer
86%
html & css
Punctual
91%
illustrator
Web Developer
64%
wordpress

Portfolio

My latest projects


July 18, 2017

Unboxing Lenovo Yoga 520 (14IKB-AFID version)

Satu screenshot dari video unboxing gue.
Seperti yang sudah gue bahas sedikit di postingan gue sebelumnya, sekitar beberapa minggu ini gue sedang mencari laptop baru gue untuk menggantikan Sony Vaio gue. Pilihan gue sebenarnya banyak banget di kisaran 10 juta plus minus 2 juta. 

Ada Microsoft Surface Pro 4 seharga 12 juta yang bakalan asik buat diajak mobile, tapi gue mundur karena gue harus menambah 2 juta lagi untuk membeli keyboardnya. 

Ada juga Lenovo Legion Y520 di harga 11 juta yang bakalan asik buat gaming dengan nVidia gtx 1050-nya, tapi akhirnya gak gue pilih karena gue sudah terbiasa menggunakan laptop dengan layar touchscreen. Lagipula Legion memiliki tubuh yang relatif bongsor yang bakal menyusahkan jika harus dibawa bepergian. 

Gue sedikit hampir memilih Asus Zenbook Flip UX360CA di harga 10,2 juta karena bodinya tipis dan layarnya bisa ditekuk 360 derajat untuk dijadikan tablet. Gue mengurungkan niat karena ternyata processornya cuma dapat core m3 yang walaupun bagus di baterainya yang tahan lama, bakalan ketetran kalau nantinya gue butuh untuk software yang cukup berat. Gue harus menambah sekitar 3 juta untuk dapat versi core i5-nya, itupun memori VGA-nya integrated. 

Akhirnya gue beralih ke Lenovo Yoga 510 dengan harga sekitar 9.5 hingga 10 juta dengan processor i5-7200 dan AMD Radeon R16M-M1-30. Di samping itu, layarnya juga bisa diputar 360 derajat. Sangat cocok buat gue. Tapi ternyata awal Juli ini Lenovo merilis versi update dari 510, yaitu Lenovo Yoga 520. Sebagian besar sama, processor juga sama, tapi dengan GPU yang lebih tinggia, nVidia GeForce 940mx. Sudah gitu gue mendapatkan pen stylus aktif.

Oke, langsung saja kalau mau lihat video unboxing gue di bawah ini atau klik link ini untuk melihatnya di Youtube.



Yang ada di dalam box adalah sebagai berikut.
  1. Unit laptopnya
  2. Charger
  3. Pen stylus aktif dengan aksesori untuk menempelkan ke port USB plus 1 baterai AAAA
  4. Kartu garansi
  5. Buku manual

July 02, 2017

Pinoh Project (Part 4): Standby Lama yang Bikin Bosan, Akusisi Lagi, dan Penutup.

Pemandangan tepi Sungai Pinoh yang gue liat ketika nongkrong pas standby. Yang menarik adalah warna airnya bisa beda: keruh dan jernih. Yang keruh berasal dari Sungai Sokan karena banyak tambang tradisional di tepi sungai, sedangkan yang jernih dari sungai satunya.
Kegiatan yang paling membosankan? Pasti menuggu. Kalau waktunya jelas sih mending, ini waktunya gak pasti. Jadi karena area di Teluk Pongkal masih belum clear, sekitar 15 persen, karena warganya menolak untuk survey dilakukan, tim terpaksa menunggu di Sokan, menginap di rumah warga yang kebetulan masih saudara sama karyawan perusahaan juga. Oya, Mas Bambang, geologis dari pihak perusahaan klien harus pulang karena ayahnya sedang di rumah sakit. Jadi tinggal Gue dan Muklis, sama satu orang humas, Pak Dami.

Sosialisasi
Setelah seminggu menunggu, akhirnya tanggal 25 April 2017 terlaksanalah acara sosialisasi yang dipimpin oleh Pak Camat Kecamatan Sokan dan Kapolsek Sokan. Gue juga gak ikut acara sosialisasinya, yang jelas 2 anggota polisi yang rencananya akan ikut bersama tim gue dan Muklis tidak jadi diturunkan. Dengar-dengar pihak desa menjamin untuk tim survey bahwa survey aman dilakukan.

Akusisi berujung kasus
Besoknya ketika dua tim berjalan ke titik awal pengukuran, sudah ada beberapa orang yang menjaga tanah mereka dan tetap menolak. Akhirnya diputuskan untuk tetap diukur walaupun lompat-lompat. Lusanya, atau tanggal 27 April, kejadian yang sama terjadi, kali ini lebih parah. Tim gue sih lancar, tanpa kendala. Tapi timnya Muklis kena masalah. Belum juga pengkuran dimulai, satu orang warga mengancam akan membunuh salah satu kru jika pengukuran tetap dilakukan. Akhirnya pengukuran dihentikan di hari itu juga.

Pak Lekon, krunya Muklis, yang merasa gak terima diancam bunuh melaporkannya ke kepala adat. Akhirnya dilaksanakan sidang adat di tingkat Dusun yang menghukum si pengancam dengan membayar 150 ribu. Tidak terima dengan hukuman yang dianggap tidak membuat jera, kasus dibawa ke sidang adat tingkat kecamatan. Gue dan Muklis akhirnya balik ke Sokan, standby lagi menunggu kabar selanjutnya.

Standby Lagi
Tiga minggu berikutnya, gue melakukan kegiatan yang berulang setiap harinya: bangun tidur, sarapan, nongkrong, shalat dhuhur, makan siang, nongkrong lagi, tidur siang, shalat ashar, nonton TV, shalat maghrib, shalat Isya, nonton TV, tidur. Sekitar pertengahan Mei ada sosialisasi lagi, kali ini dari anggota dewan Kabupaten, dan hasilnya tetap nihil. Seminggu kemudian diputuskan untuk mengukur sisa volume kerja di area lain: Desa Tanjung Mahung.

video

 Salah satu tingkah anak Sokan yang sempat gue abadikan pas standby menggunakan setting TimeShift Video di Xperia Z3 gue.

Akusisi di Tanjung Mahung
Tanggal 24 Mei-nya tim akhirnya moving ke Tanjung Mahung yang masih masuk kecamatan Sokan juga. Lokasinya di sebelah selatan Desa Teluk Pongkal. Satu yang bikin gue suka dari desa ini adalah lingkungannya yang lebih bersih dan rapi. Karena sisnya cuma sekitar 14 km dan mengingat sudah H-3 puasa, Gue dan Muklis memutuskan untuk mengerjakannya hanya dalam waktu 3 hari dan menghabiskan volume kerja yang banyak di dua hari pertama. Dan beruntung semuanya lancar.

Tim Muklis di hari ketiga, kiri-kanan: Leo, Udin, Deni, Rio, Muklis.

Tim gue di hari ketiga, kiri-kanan: Sabirin, Sonsit, gue, Darlen, dan Sindin.
Selesai di Tanjung Mahung, gue harus menunggu beberapa hari lagi menunggu kepastian karena ternyata klien masih ingin mendapatkan data di Teluk Pongkal. Gue baru bisa pulang pada tangal 2 Juni 2017 setelah kecil kemungkinan pengukuran dilakukan.

Penutup
Ini adalah salah satu project yang menurut gue cukup menguras pikiran. Jika pada project-project sebelumnya, biasanya klien menekan kita agar survey tidak memakan waktu. Tapi pada project ini klien cenderung lambat dalam memecahkan masalah non teknis. Kebijakan klien yang kurang tepat menurut gue merugikan klien itu sendiri karena biaya sewa alat tetap dihitung meskipun alat dalam keadaan standby. Sisi baiknya, ada tambahan buat gue karena walaupun gak full, gue tetap dicharge pas standby. Alhamdulillah. Saatnya berburu pengganti Sony Vaio gue yang udah butut. Hehe.

June 30, 2017

Pinoh Project (Part 3): The Acquisition!

Peta Rencana Akuisisi Data Magnetik
Total panjang lintasan yang muysti gue dan Muklis ukur adalah 96 km. Karena kecepatan akusisi skeitar 2 km per alat per hari, rencananya project selesai dalam waktu 24 hari. Itu ternyata cuma di atas kertas, karena pada kenyataannya gue baru pulang awal Juni. Tapi bukan karena masalah teknis, ternyata lebih karena masalah non teknis. Biar gak amburadul, postingan gue bikin berdasarkan waktu.


22 -29 Maret 2017: Teluk Pongkal
Panjang setiap lintasan pegukuran 6 km dengan jumlah sebanyak 16 lintasan. Akan sangat memakan waktu jika dikerjakannya per lintasan. Di samping waktu, tenaga juga akan habis untuk perjalanan ke titik pertama jika lokasinya sudah jauh dari camp. Jadi akhirnya diputuskan untuk membagi menjadi 3 area dengan camp masing-masing. Delapan hari pertama gue nge-camp di salah satu rumah di Desa Teluk Pongkal, sisanya bakal dilanjutkan di camp selanjutnya.
Tim magnet di salah satu lintasan survey dengan latar belakang bukit berlitologi Granit di selatan. (Kiri-kanan: Sada, Okol, Sendorik, Gue, dan Koman)
Survey di desa ini ternyata tidak berjalan mulus. Hari pertama okelah, tim gue dan tim Muklis bisa selesaikan masing-masing 2 km. Hari kedua masalah dimulai, ketika kita mulai jalan ke titik awal, kami sudah dihadang oleh dua orang. Kita sudah jelasin sesimpel mungkin kepada mereka apa yang bakal dilakuin dengan alat magnet ini, kru lokal pun ikut jelaskan dengan bahasa mereka. Ternyata tetap saja mereka menolak area mereka untuk diukur. Bahkan ketika kami sudah janji untuk tidak mengukur di area mereka dan hanya izin lewat, mereka menolak. Gue beranggapan bahwa mereka takut ketika lewat itu kami ukur juga. Ketika gue ajak untuk ikut kita hingga batas area mereka, tetap aja menolak, mereka mau kalo mereka juga dibayar. Yaelah! Akhirnya kami mengalah, jalan memutar. Gak ingin kejadian itu terulang, besok-besoknya gue sudah pegang area mana saja yang pemiliknya melarang untuk diukur. Setelah diskusi dengan Pak Dami, orang humas perusahaan, kami membiarkan area yang belum terukur dan langsung berpindah ke area selanjutnya sementara akan dilakukan sosialisasi kembali kepada warga desa.

31 Maret - 9 April 2017: Dukuh Kepori
Mungkin di camp ini gue paling betah. Gue kasih alasannya di foto-foto di bawah.
Bisa main volley sepulang dari lapangan.
Kalo sudah bosan dengan mie, sarden, dan kornet, gue bisa makan ikan bahung, yang kadang-kadang ditangkap oleh si Agun, anaknya Pak Irmansyah, pemilik rumah yang dijadikan camp.
Senjanya. Cuma di dukuh ini, senja gak ketutup sama hutan. Sore-sore berasa asik.
Gue gak bilang kru di area lain jelek, tapi gue rasa kru di sini paling solid. (Kiri-kanan: Kere, Rijal, Nur, Onjul, dan Gue)
11 - 18 April 2017: Sungai Talas
Gak terlalu banyak yang bisa gue tulis untuk area ini selain fakta bahwa lokasinya cukup sulit karena banyak tebing yang cukup tinggi di bagian utara.
Hahaha.. Panjat tebing euy..
Dan juga fakta bahwa ketika bagian utara sudah kelar dan beralih ke bagian selatan, ternyata Sungai Sokan sedang pasang. Mau gak mau kami harus memakai sampan untuk menyeberangnya.
Timnya Muklis yang akan berangkat ke lapangan. (Kiri-kanan: Bapaknya Sindra, Muklis, Sindra, Sada, Lekkon, Yadi)
Tim gue sedang beraksi. (Kiri-kanan: Sadarudin, Seper, Ason, Jon)
Setelah selesai di daerah sini selesai, gue mendapat kabar bahwa sosialisi untuk Desa Teluk Pongkal belum dilakukan, akhirnya gue standby dulu di Nanga Sokan. Kota kecamatan itu dipilih karena di sana ada sinyal sehingga mudah untuk komunikasi. Gue tutup dulu untuk bagian ini.

June 21, 2017

Pinoh Project (Part 2): Transportasinya yang Bikin Bilang, 'Yaelah'!

Salah satu ruas jalan yang menghubungkan Nanga Pinoh dan Nanga Sokan (Maret 2017).
Salah satu "kenikmatan" bagi orang lapangan ketika sedang perjalanan menuju tempat kerjanya adalah merasakan sensasi melewati jalan yang seperti ada di foto di atas. Tapi bukan pengalaman di atas doang yang butuh gue tulis di sini, karena ternyata perjalanan hingga sampai ke camp memakan waktu 4 hari. Anda gak salah dengar: 4 HARI!

18 Maret 2017
Gue udah berangkat sebelum subuh dari Pasar Minggu menuju bandara Soetta untuk mengejar pesawat pukul 6.50. Perkiraan gue adalah perjalanan sampai ke camp cuma memakan waktu 2 hari berdasarkan pengalaman gue waktu survey sebelumnya ke area ini. Tapi ternyata gue salah. Flight pertama menuju Pontianak berjalan lancar, gue sampai sesuai jadwal, yaitu pukul 8.20. Sekitar jam 9, setelah ambil bagasi yang sebareg, gue udah ngacir masuk untuk check-in penerbangan selanjutnya. Ternyata penerbangan selanjutnya di-cancel karena alasan yang tidak diberikan oleh pihak maskapai. Gue diberikan pilihan: refund atau re-schedule fight sorenya. Karena pilihan maskapai yang ke Sintang cuma ada 2, Kalstar dan Garuda, gue putuskan untuk re-schedule, karena gue tahu bahwa Garuda sudah 10 menit yang lalu lepas landas dan gue gak mau membuang waktu sehari.
Lima jam gue nungguin di bandara. Setelah waktunya check-in, gue dapat kabar lagi bahwa pesawat sore juga di-cancel dengan alasan yang juga tidak diinformasikan. Gue refund akhirnya dan langsung beli tiket Garuda untuk besok yang harganya ternyata melambung. Gue bermalam di Pontianak akhirnya.

19 Maret 2017
Penerbangang ke Sintang berjalan lancar. Gue tiba di Bandara Susilo Sintang pukul 9.40. Karena bakalan terlalu sore jika gue langsung menuju Nanga Sokan, akhirnya gue menginap di Nanga Pinoh, sekitar 2 jam perjalanan dari Sintang. Di samping itu gue harus mengambil baterai alat yang dikirim melalui jalur laut Jakarta-Pontianak dan jalur darat Pontianak-Nanga Pinoh.
Salah satu pemandangan menakjubkan ketika pesawat akan mendarat di Bandara Susilo, Sintang.


20 Maret 2017
Sekitar jam 10 gue berangkat bareng Pak Fuon menggunakan mobil dobel gardannya.
Alat magnetik dan beberapa logistik siap diberangkatkan.
Normalnya, perjalanan dari Nanga Pinoh menuju Nanga Sokan hanya berkisar sekitar 4-5 jam. Tapi di bulan Maret itu ternyata jalan sedang dalam keadaan hancur. Hujan menjadi penyebab ruas jalan sebagian besar belum beraspal itu menjadi semakin parah. Sebenarnya masih ada satu jalur lagi, yaitu jalur sungai yang ternyata hanya memakan waktu 3 jam saja. Tapi ternyata air sedang surut dan perahu gak akan bisa lewat. Karena kondisi jalan yang parah, gue tiba di Nanga Sokan setengah 6 sore. Badan gue remuk karena mobil yang cuma satu kabin itu harus diisi oleh kami bertiga: gue di tengah, Muklis, dan Pak Fuon. Karena gak memungkinkan untuk langsung menuju camp, kami terpaksa untuk menginap di Nanga Sokan.
Sungai Pinoh yang merupakan muara Sungai Sokan, membelah kota kecamatan Nanga Sokan menjadi 3 area.
21 Maret 2017
Perjalanan berlanjut, kali ini lewat sungai. Beruntung ternyata airnya sedang pasang, sehingga perjalanan dengan durasi sekitar 2 jam itu berjalan lancar. Perjalanan ke camp di Desa Teluk Pongkal melewati beberapa desa dan kampung, yaitu Desa Telaga, Desa Sijau, Kampung Kepaladaak, dan Kampung Pahat.
Desa Sijau ditangkap dari atas sampan motor yang sedang melewati Sungai Sokan.
Oke, segitu dulu untuk part ini. Akan gue sambung lagi nanti.

June 20, 2017

Pinoh Project (Part 1): Pembukaan

Tim survey magnetik di depan outcrop Andesit Porfiritik dari Formasi Gunung Kerabai (Dari kiri-kanan: Onjul, gw, Nur, sama Rijal)
Setelah Mei tahun kemarin, praktis gue gak pernah posting tentang project survey geofisika. Bukan berarti habis dari Malaysia kemarin gak ada project lagi, tapi durasi project yang cuma beberapa hari doang bikin gue malas untuk menuliskannya di blog ini. Kali ini karena gue lama di lapangan, dua bulan lebih, banyak cerita yang menurut gue menarik untuk ditulis. Dan biar lebih rapi dan kemungkinan tulisannya bakalan panjang, ceritanya bakalan gue bagi ke dalam beberapa postingan blog. Jumlah postingannya belum bisa gue sebutkan, karena bakalan tergantung dari mood gue. Yang jelas postingan pertama gue bakalan bertema tentang perjalanan gue ke sana.

October 01, 2016

Sony VAIO Repair Saga Continues..

Oke, jadi gue lagi agak malas aja nulis blog. Emang banyak banget alasan buat gak nulis. Yang paling jadi hambatan gue beberapa bulan ini adalah ngadatnya laptop gue untuk yang kesekian kalinya..

Laptop gue, Sony VAIO SVF14416SGW, yang udah menemani gue ke mana-mana selama hampir 3 tahun ini..


Maret 2016
Layar laptop gue adalah korban pertama yang butuh perhatian. Gara-gara cerobohnya gue menjejalkan barang-barang yang lumayan berat ke dalam tas laptop dengan alasan efisiensi tempat, layar laptop gue jadi bergaris a.k.a bergaris. Akhirnya gue putusin buat cabut ke Mangga Dua karena gue tau di sana ada Sony Center. Setelah gue jelasin keluhan gue ke petugas di Sony Center gue kaget waktu dijelasin bahwa harus diganti semua bagian layarnya dengan total biaya 4,6 juta. Buset. Mendingan gue beli laptop baru sekalian.
Akhirnya gue putusin buat servis di tempat lain yang gak resmi. Gue nemu tempat servis yang sanggup repair dengan harga 1,2 juta (saja). Setelah nunggu beberapa jam, laptop gue bisa diperbaiki. Sempet gue bawa ke lapangan juga beberapa minggu berikutnya.

Agustus 2016
Laptop gue ngadat lagi. Kali ini keyboardnya yang bermasalah. Dan gue yakin masalahnya karena pernah ketumpahan kopi tahun lalu. Sebenarnya beberapa kali keyboard gue ada tombolnya yang bermasalah, tapi hanya temporer doang. Tapi kali ini beda, karena tombol Z-X-V-N-M-left-up-right-down gue bener-bener gak bisa ditekan. Akhirnya begitu ada kesempatan ke Jakarta gue perbaiki lagi ke tempat yang sama. Kali ini gue abisin 600rb buat ganti keyboard. Setelah gue coba keyboardnya dan ternyata oke, gue balik ke kosan.
Ketika gue coba nyalain di kosan, laptop gue overheat dan langsung mati. Gue nyalaiin lagi, mati lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya gue balik lagi dong ke tempat servisnya. Laptop gue didiagnosa VGA-nya bermasalah. Gue lemes dong.
Belum nyerah, gue bawa ke Sony Center di Jogja. Ternyata cuma bermasalah di kipas yang nempel di motherboard. Sedikit lega ketika gue cuma menghabiskan 300ribu doang. Beberapa hari berikutnya giliran software gue yang kena. Windows gue corrupt, gue balik ke Sony Center. Setelah beberapa hari, ternyata laptop di Windows gue gak berhasil direcovery. Akhirnya gue harus puas dengan Windows yang gue pasang sendiri.

Oktober 2016
Gue nulis postingan ini sambil nahan tangan gue yang dingin akibat gue pasang kipas dengan kecepatan maksimal yang diarahkan ke arah laptop. Sepertinya kipas laptop gue bermasalah lagi. Mana udah lewat sebulan lagi dari servis sebelumnya. Haduh. Itupun settingan CPU clocknya gue batesin cuma 60 persen. Lewat dari itu, suhu langsung naik. Solusi jangka pendeknya paling gue cari kipas eksternal yang dicolok ke USB port laptop. Jangka menengahnya ya gue bawa ke Sony Center lagi. Jangka panjangnya ya, siap-siap nguras rekening gue buat beli laptop baru.

Services

What can I do


Branding

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Web Design

Quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Donec sit amet venenatis ligula. Aenean sed augue scelerisque.

Graphic Design

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident.

Development

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident.

Photography

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod. Donec sit amet venenatis ligula. Aenean sed augue scelerisque, dapibus risus sit amet.

User Experience

Quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Donec sit amet venenatis ligula. Aenean sed augue scelerisque, dapibus risus sit amet.

Contact

Get in touch with me


Address/Street

Kongsijaya 02/01, Widasari, Indramayu 45271

Phone number

+(62) 81223001161

Website

www.abialghifari.com