• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

Berhasil lulus pada tahun 2012 dari Geofisika UGM, pria kelahiran Indramayu, 22 Maret 1990 ini pernah menjadi geophysicist assistant pada tahun 2012 hingga 2013 dan menjadi geophysicist pada tahun 2015 di PT Antam (Persero) Tbk Unit Geomin.

Penyuka gadget yang satu ini sekarang menjadi geophysicist yang independen dan siap untuk meramaikan project-project geofisika.

Profile

Deepak Bhagya

Personal info

Abi Dzikri Alghifari

Phone number: +(62) 81223001161
BBM PIN: D7DC98CC
Website: www.abialghifari.com
E-mail: abi.alghifari@gmail.com

RESUME

Know more about my past


Employment

  • 2016-now

    Independent @ Geophysicist

    Notable Project:

    Gold Exploration using Magnetics Method at Nanga Pinoh, Kalbar (2017) -

    Burried Utility Locating using GPR Method at Jakarta, DKI Jakarta (2017) -

  • 2015-2016

    PT. Antam (Persero) Tbk, Unit Geomin @ Geophysicist

    Notable Project:

    Gold Exploration using TDIP Method at Kelantan, Malaysia (2016) -

    Bauxite Exploration using GPR Method at Tayan, Kalbar (2015) -

  • 2012-2013

    PT. Antam (Persero) Tbk, Unit Geomin @ Geophysicist Assistant

    Notable Project:

    Nickel Exploration using Resistivity Method at Buli, Malut (2013) -

    Gold Exploration using Magnetics Method at Oksibil, Papua (2012) -

Education

  • 2007-2012

    Universitas Gadjah Mada @ Geophysics

    Notable Organization:

    - Himpunan Mahasiswa Geofisika [HMGF UGM] (2007-2012)

    - Society of Exploration Geophysicicst (SEG) Student Chapter (2007-2012)

  • 2014-2007

    MAN Yogyakarta II @ Science

    Notable Organization:

    - Kelompok Ilmiah Remaja (2014-2017)

    - Pramuka (2014-2015)

  • 2001-2004

    MTs YAPIN Kertasemaya

    Notable Organization:

    - Pramuka (2001-2002)

    - Palang Merah Remaja (2002-2003)

Skills & Things about me

Project Managing
70%
Mineral Prospecting, Environmental, & Geotechnical Survey
Data Acquisition & Processing
90%
Resistivity, TDIP, CS-AMT, Magnetics, Gravity, & GPR Data
Data Interpretation & Reporting
80%
Resistivity, TDIP, CS-AMT, Magnetics, Gravity, & GPR Data

Blog

Projects Portfolio, Gadget, Music Review, Manchester United, & Life


December 09, 2017

Lolos CPNS LIPI!


Ucapan Selamat dari Akun Resmi Twitter LIPI (@lipiindonesia)

Tiga tahun lalu di bulan-bulan ini mungkin gue terpuruk. Waktu itu gue ikut CPNS LIPI 2014. Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) berjalan dengan mulus dengan skor yang terbilang tinggi: 378. Tetapi akhirnya gue kecolongan di Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) yang mengakibatkan nilai akhir gue terjun bebas. Gue gak terpilih akhirnya. Sakit memang.

Harapan kembali muncul ketika tahun ini LIPI membuka penerimaan CPNS. Gue yang memang sedang tidak ada proyek survei bertekad untuk all out. Untuk menaklukan SKD, gue sebulan suntuk berkutat dengan buku tentang tes CPNS. Mulai dari perlawanan Sultan Babullah memimpin Ternate untuk Melawan Portugis hingga alasan mengapa UUD 45 belum bisa dijalankan secara penuh pada tahun 1945 sampai 1949. Mulai dari siapa saja yang merumuskan Pancasila hingga bagaimana tiap-tiap sila di Pancasila diamalkan. Mulai dari latihan soal deret angka sampai logika matematika. Hasilnya gak sia-sia: gue berada di urutan ketiga dengan skor 381.

Hasil SKD CPNS LIPI 2017 untuk formasi yang gue lamar

Dengan waktu yang mepet hingga tes SKB 1 (SKB Computer Assisted Test [CAT]), gue mempelajari bahan-bahan yang gue perkirakan bakal. Mulai dari UU ASN, segala hal tentang LIPI, segala hal tentang Pusat Penelitian Laut Dalam, hingga beberapa penelitian geofisika yang berkaitan tentang laut dalam. Soal-soal yang keluar ternyata jauh dari ekspektasi: soal-soal tentang dasar penelitian. Gue sangat kecewa ketika skor yang gue dapat adalah 290. kekecewaan gue berkurang ketika ternyata skor tertinggi dari semua peserta adalah 320. Not so bad!

Selang dua hari setelahnya siap-gak-siap gue harus mengikuti SKB selanjutnya, yaitu wawancara. Berada di ruangan wawancara yang sama dengan tiga tahun lalu membuat ingatan gue melayang ke waktu itu. Dan itu membuat gue grogi demi membayangkan bagaimana suasana wawancara yang santai ketika itu membuat gue terlena. Gue hanya bisa berdoa semoga hal tersebut tidak terulang dan berharap kali ini berjalan dengan sukses. Gue harus membuang jauh pikiran itu dan fokus dengan tiga pewawancara di depan gue. 

Suasana Wawancara CPNS LIPI 2017 (Image credit: official twitter BOSDM LIPI [@bosdmlipi])


Pada akhirnya gue merasa bersyukur bahwa wawancara mengalir dengan sangat alami. Gue seperti dimudahkan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan karena ternyata kasusnya pernah gue alami. Dibuka dengan gue memperkenalkan diri gue, pengalaman kerja gue, pencapaian yang pernah gue dapat, dan lain-lain. Dilanjutkan dengan pertanyaan inovasi yang pernah gue lakukan dan gue jawab dengan pencapaian tim geofisika Geomin Antam yang menjadi juara 1 di Konvensi Mutu Geomin 2015 dengan stang GPR-nya. Pertanyaan seperti masalah yang pernah terjadi di lapangan dan bagaimana gue mengatasinya bisa gue jawab dengan kasus penolakan warga yang areanya dilewati tim survei. Salah satu solusi yang gue utarakan adalah dengan mengikutkan warga yang menolak menjadi tenaga lokal. Solusi seperti itu memang masih hangat di pikiran gue karena baru terjadi di tahun ini di proyek sebelumnya. Beberapa pertanyaan yang lain mungkin gue rasa jawabannya belum memuaskan tapi secara umum kali ini gue merasa bahwa wawancara kali ini sukses. Biarpun demikian, gue tetap berusaha untuk tetap tidak terlalu percaya diri karena bisa saja kandidat yang lain mempunyai visi jawaban yang lebih bagus dari gue. Tiga minggu kemudian gue isi dengan berdoa, berdoa, dan berdoa. Karena gue yakin bahwa sekeras apapun usaha jika memang Tuhan belum mengizinkan, kita bisa apa?

Tiba di hari yang dinantikan, dua hari yang lalu. Dan hasilnya adalah seperti ini.

Hasil Integrasi SKD dan SKB CPNS LIPI 2017 untuk formasi yang gue lamar

Sejak kecil gue bermimpi menjadi peneliti. Gue bersyukur bahwa gue diberikan kesempatan untuk bisa mengabdi pada negeri ini melalui LIPI. Tentunya kesempatan ini tidak akan gue sia-siakan. Gue berharap bahwa gue bisa amanah dalam mengemban tugas ini.

Terima kasih gue ucapkan bagi kedua orang tua gue yang tidak henti-hentinya mendoakan gue dan selalu mendukung dan terus percaya dengan apapun yang gue lakukan, kakak, adik-adik, dan saudara-saudara gue juga, guru-guru gue dari SD sampai SMA, dosen-dosen Geofisika UGM, teman-teman seperjuangan, dan pastinya Geofisika UGM 2007!

Akhir kata: Bismillah!

November 09, 2017

Kane Brown - Self Titled (2016) Album Review

Pertama dengar nama Kane Brown adalah ketika gue sedang menelusuri tab Trending di Youtube App. Kebetulan pilihan lokasi untuk video trending gue atur ke US dan ada salah satu lagu Kane Brown yang nongol. Gue yang memang sedang tergila-gila dengan musik bergenre country bergegas untuk mengklik video tersebut. Dan ternyata asik. Gue akhirnya mendengarkan seluruh lagu di albumnya. Ini review gue.

Kane Brown - Self Titled Album
Kita tahu kalau ini adalah lagu country bahkan ketika mendengarkan di detik-detik awal lagu pertama di album ini, Hometown. Bercerita tentang bagaimana Brown ingin membuat hometown-nya bangga dengan karya-karya yang ia ciptakan. Di lagu ini, bahkan, Brown menyebutkan northwest Georgia dan Chattanooga, Tennessee yang menjadi kota kelahiran dan kota tempat dia tumbuh di liriknya.

Aroma country terasa lebih kental di lagu kedua. Alunan banjo terdengar di detik pertama What Ifs. Kali ini Brown tidak sendirian, ditemani Lauren Alaina. Teman sekolah Brown ketika di Georgia dan sekaligus runner-up American Idol seasen 10 ini dengan suaranya yang khas menambah asiknya lagu ini. Lagu ini bercerita tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering diungkapkan oleh sepasang kekasih.

Learning lebih bernuansa hiphop. Lagu ini mengajarkan kita untuk belajar berlapang dada dengan apapun yang terjadi di masa lalu kita, seburuk apapun itu.

Inilah lagu terfavorit gue di album ini: Thunder in The Rain. Brown menceritakan tentang bagaimana yang terjadi ketika dua hati saling bertemu. Every time our hearts collide/I can feel our love come alive/It's insane, baby/We're like thunder in the rain.

Pull It Off lebih bernuansa rock dengan tempo yang cepat. Bukan termasuk lagu terfavorit gue di album ini tetapi gue yakin beberapa orang akan mengapresiasi usaha Brown untuk memperkaya genre musik di album ini.

Lagu semacam Cold Spot inilah yang membuat gue suka dengan music country. Di lagu bertempo lambat ini, Brown menceritakan tentang masa kecilnya. Selepas pulang sekolah dia selalu singgah di toko milik kakeknya, Cold Spot. Di tempat ini dia banyak belajar dari kakeknya: belajar tentang hidup. It was heaven on earth when my world was hell/And the big stores came and the business failed/But all my memories are alive and well/At the cold spot/Oh yeah/At the cold spot/Take me back to the cold spot.

Sekilas Ain't No Stopping Us Now mirip dengan Leave the Night On-nya Sam Hunt. Keduanya memang bertema sama: Summer dan Being Wild.

Comeback menceritakan tentang cerita lama yang bersemi kembali. Di sini Brown berhasil memainkan kata-kata di liriknya: We could make a comeback if you come back.

Rockstars menceritakan masa-masa liar ketika sepasang kekasih bebas mengekspresikan dirinya dengan menyanyikan lagu-lagu favoritnya. We never ended up on the MTV/Or heard our voices on a CD/But in your eyes and in my arms/We were each other's rockstar.

Better Place ini mungkin lagu yang mungkin bikin hati wanita meleleh. Menceritakan tentang seorang pria yang siap mewujudkan hidup wanitanya seperti yang diimpikan hingga akhir waktu. Pria tersebut ingin menjadikan dunia sang wanita "better place".

Di Granddady's Chair, Brown menceritakan tentang kerinduan terhadap kakeknya. Kakeknya yang selalu memperlakukan setiap orang dengan cinta. Kakeknya yang mengajarkannya tentang hidup. I hope one day when you're looking down on me / I make you smile, I make you proud / I may not be there now / But I hope one day I'll be man enough to be sitting there, in my Granddaddy's chair,

Oke. Cukup sekian review dari gue. Yang jelas, bagi pecinta musik country gue rekomendasikan album ini. Album ini akan sangat sayang untuk dilewatkan.

 


July 18, 2017

Unboxing Lenovo Yoga 520 (14IKB-AFID version)

Satu screenshot dari video unboxing gue.
Seperti yang sudah gue bahas sedikit di postingan gue sebelumnya, sekitar beberapa minggu ini gue sedang mencari laptop baru gue untuk menggantikan Sony Vaio gue. Pilihan gue sebenarnya banyak banget di kisaran 10 juta plus minus 2 juta. 

Ada Microsoft Surface Pro 4 seharga 12 juta yang bakalan asik buat diajak mobile, tapi gue mundur karena gue harus menambah 2 juta lagi untuk membeli keyboardnya. 

Ada juga Lenovo Legion Y520 di harga 11 juta yang bakalan asik buat gaming dengan nVidia gtx 1050-nya, tapi akhirnya gak gue pilih karena gue sudah terbiasa menggunakan laptop dengan layar touchscreen. Lagipula Legion memiliki tubuh yang relatif bongsor yang bakal menyusahkan jika harus dibawa bepergian. 

Gue sedikit hampir memilih Asus Zenbook Flip UX360CA di harga 10,2 juta karena bodinya tipis dan layarnya bisa ditekuk 360 derajat untuk dijadikan tablet. Gue mengurungkan niat karena ternyata processornya cuma dapat core m3 yang walaupun bagus di baterainya yang tahan lama, bakalan ketetran kalau nantinya gue butuh untuk software yang cukup berat. Gue harus menambah sekitar 3 juta untuk dapat versi core i5-nya, itupun memori VGA-nya integrated. 

Akhirnya gue beralih ke Lenovo Yoga 510 dengan harga sekitar 9.5 hingga 10 juta dengan processor i5-7200 dan AMD Radeon R16M-M1-30. Di samping itu, layarnya juga bisa diputar 360 derajat. Sangat cocok buat gue. Tapi ternyata awal Juli ini Lenovo merilis versi update dari 510, yaitu Lenovo Yoga 520. Sebagian besar sama, processor juga sama, tapi dengan GPU yang lebih tinggia, nVidia GeForce 940mx. Sudah gitu gue mendapatkan pen stylus aktif.

Oke, langsung saja kalau mau lihat video unboxing gue di bawah ini atau klik link ini untuk melihatnya di Youtube.



Yang ada di dalam box adalah sebagai berikut.
  1. Unit laptopnya
  2. Charger
  3. Pen stylus aktif dengan aksesori untuk menempelkan ke port USB plus 1 baterai AAAA
  4. Kartu garansi
  5. Buku manual

July 02, 2017

Pinoh Project (Part 4): Standby Lama yang Bikin Bosan, Akusisi Lagi, dan Penutup.

Pemandangan tepi Sungai Pinoh yang gue liat ketika nongkrong pas standby. Yang menarik adalah warna airnya bisa beda: keruh dan jernih. Yang keruh berasal dari Sungai Sokan karena banyak tambang tradisional di tepi sungai, sedangkan yang jernih dari sungai satunya.
Kegiatan yang paling membosankan? Pasti menuggu. Kalau waktunya jelas sih mending, ini waktunya gak pasti. Jadi karena area di Teluk Pongkal masih belum clear, sekitar 15 persen, karena warganya menolak untuk survey dilakukan, tim terpaksa menunggu di Sokan, menginap di rumah warga yang kebetulan masih saudara sama karyawan perusahaan juga. Oya, Mas Bambang, geologis dari pihak perusahaan klien harus pulang karena ayahnya sedang di rumah sakit. Jadi tinggal Gue dan Muklis, sama satu orang humas, Pak Dami.

Sosialisasi
Setelah seminggu menunggu, akhirnya tanggal 25 April 2017 terlaksanalah acara sosialisasi yang dipimpin oleh Pak Camat Kecamatan Sokan dan Kapolsek Sokan. Gue juga gak ikut acara sosialisasinya, yang jelas 2 anggota polisi yang rencananya akan ikut bersama tim gue dan Muklis tidak jadi diturunkan. Dengar-dengar pihak desa menjamin untuk tim survey bahwa survey aman dilakukan.

Akusisi berujung kasus
Besoknya ketika dua tim berjalan ke titik awal pengukuran, sudah ada beberapa orang yang menjaga tanah mereka dan tetap menolak. Akhirnya diputuskan untuk tetap diukur walaupun lompat-lompat. Lusanya, atau tanggal 27 April, kejadian yang sama terjadi, kali ini lebih parah. Tim gue sih lancar, tanpa kendala. Tapi timnya Muklis kena masalah. Belum juga pengkuran dimulai, satu orang warga mengancam akan membunuh salah satu kru jika pengukuran tetap dilakukan. Akhirnya pengukuran dihentikan di hari itu juga.

Pak Lekon, krunya Muklis, yang merasa gak terima diancam bunuh melaporkannya ke kepala adat. Akhirnya dilaksanakan sidang adat di tingkat Dusun yang menghukum si pengancam dengan membayar 150 ribu. Tidak terima dengan hukuman yang dianggap tidak membuat jera, kasus dibawa ke sidang adat tingkat kecamatan. Gue dan Muklis akhirnya balik ke Sokan, standby lagi menunggu kabar selanjutnya.

Standby Lagi
Tiga minggu berikutnya, gue melakukan kegiatan yang berulang setiap harinya: bangun tidur, sarapan, nongkrong, shalat dhuhur, makan siang, nongkrong lagi, tidur siang, shalat ashar, nonton TV, shalat maghrib, shalat Isya, nonton TV, tidur. Sekitar pertengahan Mei ada sosialisasi lagi, kali ini dari anggota dewan Kabupaten, dan hasilnya tetap nihil. Seminggu kemudian diputuskan untuk mengukur sisa volume kerja di area lain: Desa Tanjung Mahung.


 Salah satu tingkah anak Sokan yang sempat gue abadikan pas standby menggunakan setting TimeShift Video di Xperia Z3 gue.

Akusisi di Tanjung Mahung
Tanggal 24 Mei-nya tim akhirnya moving ke Tanjung Mahung yang masih masuk kecamatan Sokan juga. Lokasinya di sebelah selatan Desa Teluk Pongkal. Satu yang bikin gue suka dari desa ini adalah lingkungannya yang lebih bersih dan rapi. Karena sisnya cuma sekitar 14 km dan mengingat sudah H-3 puasa, Gue dan Muklis memutuskan untuk mengerjakannya hanya dalam waktu 3 hari dan menghabiskan volume kerja yang banyak di dua hari pertama. Dan beruntung semuanya lancar.

Tim Muklis di hari ketiga, kiri-kanan: Leo, Udin, Deni, Rio, Muklis.

Tim gue di hari ketiga, kiri-kanan: Sabirin, Sonsit, gue, Darlen, dan Sindin.
Selesai di Tanjung Mahung, gue harus menunggu beberapa hari lagi menunggu kepastian karena ternyata klien masih ingin mendapatkan data di Teluk Pongkal. Gue baru bisa pulang pada tangal 2 Juni 2017 setelah kecil kemungkinan pengukuran dilakukan.

Penutup
Ini adalah salah satu project yang menurut gue cukup menguras pikiran. Jika pada project-project sebelumnya, biasanya klien menekan kita agar survey tidak memakan waktu. Tapi pada project ini klien cenderung lambat dalam memecahkan masalah non teknis. Kebijakan klien yang kurang tepat menurut gue merugikan klien itu sendiri karena biaya sewa alat tetap dihitung meskipun alat dalam keadaan standby. Sisi baiknya, ada tambahan buat gue karena walaupun gak full, gue tetap dicharge pas standby. Alhamdulillah. Saatnya berburu pengganti Sony Vaio gue yang udah butut. Hehe.

June 30, 2017

Pinoh Project (Part 3): The Acquisition!

Peta Rencana Akuisisi Data Magnetik
Total panjang lintasan yang muysti gue dan Muklis ukur adalah 96 km. Karena kecepatan akusisi skeitar 2 km per alat per hari, rencananya project selesai dalam waktu 24 hari. Itu ternyata cuma di atas kertas, karena pada kenyataannya gue baru pulang awal Juni. Tapi bukan karena masalah teknis, ternyata lebih karena masalah non teknis. Biar gak amburadul, postingan gue bikin berdasarkan waktu.


22 -29 Maret 2017: Teluk Pongkal
Panjang setiap lintasan pegukuran 6 km dengan jumlah sebanyak 16 lintasan. Akan sangat memakan waktu jika dikerjakannya per lintasan. Di samping waktu, tenaga juga akan habis untuk perjalanan ke titik pertama jika lokasinya sudah jauh dari camp. Jadi akhirnya diputuskan untuk membagi menjadi 3 area dengan camp masing-masing. Delapan hari pertama gue nge-camp di salah satu rumah di Desa Teluk Pongkal, sisanya bakal dilanjutkan di camp selanjutnya.
Tim magnet di salah satu lintasan survey dengan latar belakang bukit berlitologi Granit di selatan. (Kiri-kanan: Sada, Okol, Sendorik, Gue, dan Koman)
Survey di desa ini ternyata tidak berjalan mulus. Hari pertama okelah, tim gue dan tim Muklis bisa selesaikan masing-masing 2 km. Hari kedua masalah dimulai, ketika kita mulai jalan ke titik awal, kami sudah dihadang oleh dua orang. Kita sudah jelasin sesimpel mungkin kepada mereka apa yang bakal dilakuin dengan alat magnet ini, kru lokal pun ikut jelaskan dengan bahasa mereka. Ternyata tetap saja mereka menolak area mereka untuk diukur. Bahkan ketika kami sudah janji untuk tidak mengukur di area mereka dan hanya izin lewat, mereka menolak. Gue beranggapan bahwa mereka takut ketika lewat itu kami ukur juga. Ketika gue ajak untuk ikut kita hingga batas area mereka, tetap aja menolak, mereka mau kalo mereka juga dibayar. Yaelah! Akhirnya kami mengalah, jalan memutar. Gak ingin kejadian itu terulang, besok-besoknya gue sudah pegang area mana saja yang pemiliknya melarang untuk diukur. Setelah diskusi dengan Pak Dami, orang humas perusahaan, kami membiarkan area yang belum terukur dan langsung berpindah ke area selanjutnya sementara akan dilakukan sosialisasi kembali kepada warga desa.

31 Maret - 9 April 2017: Dukuh Kepori
Mungkin di camp ini gue paling betah. Gue kasih alasannya di foto-foto di bawah.
Bisa main volley sepulang dari lapangan.
Kalo sudah bosan dengan mie, sarden, dan kornet, gue bisa makan ikan bahung, yang kadang-kadang ditangkap oleh si Agun, anaknya Pak Irmansyah, pemilik rumah yang dijadikan camp.
Senjanya. Cuma di dukuh ini, senja gak ketutup sama hutan. Sore-sore berasa asik.
Gue gak bilang kru di area lain jelek, tapi gue rasa kru di sini paling solid. (Kiri-kanan: Kere, Rijal, Nur, Onjul, dan Gue)
11 - 18 April 2017: Sungai Talas
Gak terlalu banyak yang bisa gue tulis untuk area ini selain fakta bahwa lokasinya cukup sulit karena banyak tebing yang cukup tinggi di bagian utara.
Hahaha.. Panjat tebing euy..
Dan juga fakta bahwa ketika bagian utara sudah kelar dan beralih ke bagian selatan, ternyata Sungai Sokan sedang pasang. Mau gak mau kami harus memakai sampan untuk menyeberangnya.
Timnya Muklis yang akan berangkat ke lapangan. (Kiri-kanan: Bapaknya Sindra, Muklis, Sindra, Sada, Lekkon, Yadi)
Tim gue sedang beraksi. (Kiri-kanan: Sadarudin, Seper, Ason, Jon)
Setelah selesai di daerah sini selesai, gue mendapat kabar bahwa sosialisi untuk Desa Teluk Pongkal belum dilakukan, akhirnya gue standby dulu di Nanga Sokan. Kota kecamatan itu dipilih karena di sana ada sinyal sehingga mudah untuk komunikasi. Gue tutup dulu untuk bagian ini.

June 21, 2017

Pinoh Project (Part 2): Transportasinya yang Bikin Bilang, 'Yaelah'!

Salah satu ruas jalan yang menghubungkan Nanga Pinoh dan Nanga Sokan (Maret 2017).
Salah satu "kenikmatan" bagi orang lapangan ketika sedang perjalanan menuju tempat kerjanya adalah merasakan sensasi melewati jalan yang seperti ada di foto di atas. Tapi bukan pengalaman di atas doang yang butuh gue tulis di sini, karena ternyata perjalanan hingga sampai ke camp memakan waktu 4 hari. Anda gak salah dengar: 4 HARI!

18 Maret 2017
Gue udah berangkat sebelum subuh dari Pasar Minggu menuju bandara Soetta untuk mengejar pesawat pukul 6.50. Perkiraan gue adalah perjalanan sampai ke camp cuma memakan waktu 2 hari berdasarkan pengalaman gue waktu survey sebelumnya ke area ini. Tapi ternyata gue salah. Flight pertama menuju Pontianak berjalan lancar, gue sampai sesuai jadwal, yaitu pukul 8.20. Sekitar jam 9, setelah ambil bagasi yang sebareg, gue udah ngacir masuk untuk check-in penerbangan selanjutnya. Ternyata penerbangan selanjutnya di-cancel karena alasan yang tidak diberikan oleh pihak maskapai. Gue diberikan pilihan: refund atau re-schedule fight sorenya. Karena pilihan maskapai yang ke Sintang cuma ada 2, Kalstar dan Garuda, gue putuskan untuk re-schedule, karena gue tahu bahwa Garuda sudah 10 menit yang lalu lepas landas dan gue gak mau membuang waktu sehari.
Lima jam gue nungguin di bandara. Setelah waktunya check-in, gue dapat kabar lagi bahwa pesawat sore juga di-cancel dengan alasan yang juga tidak diinformasikan. Gue refund akhirnya dan langsung beli tiket Garuda untuk besok yang harganya ternyata melambung. Gue bermalam di Pontianak akhirnya.

19 Maret 2017
Penerbangang ke Sintang berjalan lancar. Gue tiba di Bandara Susilo Sintang pukul 9.40. Karena bakalan terlalu sore jika gue langsung menuju Nanga Sokan, akhirnya gue menginap di Nanga Pinoh, sekitar 2 jam perjalanan dari Sintang. Di samping itu gue harus mengambil baterai alat yang dikirim melalui jalur laut Jakarta-Pontianak dan jalur darat Pontianak-Nanga Pinoh.
Salah satu pemandangan menakjubkan ketika pesawat akan mendarat di Bandara Susilo, Sintang.


20 Maret 2017
Sekitar jam 10 gue berangkat bareng Pak Fuon menggunakan mobil dobel gardannya.
Alat magnetik dan beberapa logistik siap diberangkatkan.
Normalnya, perjalanan dari Nanga Pinoh menuju Nanga Sokan hanya berkisar sekitar 4-5 jam. Tapi di bulan Maret itu ternyata jalan sedang dalam keadaan hancur. Hujan menjadi penyebab ruas jalan sebagian besar belum beraspal itu menjadi semakin parah. Sebenarnya masih ada satu jalur lagi, yaitu jalur sungai yang ternyata hanya memakan waktu 3 jam saja. Tapi ternyata air sedang surut dan perahu gak akan bisa lewat. Karena kondisi jalan yang parah, gue tiba di Nanga Sokan setengah 6 sore. Badan gue remuk karena mobil yang cuma satu kabin itu harus diisi oleh kami bertiga: gue di tengah, Muklis, dan Pak Fuon. Karena gak memungkinkan untuk langsung menuju camp, kami terpaksa untuk menginap di Nanga Sokan.
Sungai Pinoh yang merupakan muara Sungai Sokan, membelah kota kecamatan Nanga Sokan menjadi 3 area.
21 Maret 2017
Perjalanan berlanjut, kali ini lewat sungai. Beruntung ternyata airnya sedang pasang, sehingga perjalanan dengan durasi sekitar 2 jam itu berjalan lancar. Perjalanan ke camp di Desa Teluk Pongkal melewati beberapa desa dan kampung, yaitu Desa Telaga, Desa Sijau, Kampung Kepaladaak, dan Kampung Pahat.
Desa Sijau ditangkap dari atas sampan motor yang sedang melewati Sungai Sokan.
Oke, segitu dulu untuk part ini. Akan gue sambung lagi nanti.

Services

What can I do


Mineral Prospecting Survey

Mineral exploration, such us gold, bauxite, and nickel using geophysical methods.

Notable Project: Gold Exploration using TDIP Method at Kelantan, Malaysia (2016).

Environmental Survey

Geophysical Survey for envoironmental purpose, such as groundwater exploration and groundwater contamination investigation.

Notable Project: Groundwater Exploration using Resistivity VES Method at Lebak, Banten (2014).

Geotechnical Survey

Geophysical Survey for geotechnical purpose, such as utility locating (e.g.: burried pipeline) and bedrock depth locating for building construction purpose

Notable Project: Burried uitility locating at Jalan Gatot Subroto, Jakarta (2017)

Contact

Get in touch with me


Address/Street

Kongsijaya 02/01, Widasari, Indramayu 45271

Phone number

+(62) 81223001161

Website

www.abialghifari.com