Abi Dzikri Alghifari

I am a Writer

Abi Dzikri Alghifari

Five facts about me:
1. Freelance geophysicist with 5 years field experience
2. Listen to music, with different genres at all times
3. Love all things about gadgets
4. Stayed up all night to watch the Man United match
5. Writing his first book

  • Gg Tarilah, Kongsijaya 002/001, Widasari, Indramayu, Jawa Barat
  • +62-812-2300-1161
  • abi.alghifari@gmail.com
  • www.abialghifari.com
Me

My Professional Skills

From mineral exploration survey, geotechnical survey, to environmental survey; and after conducting surveys on many islands in Indonesia (and Malaysia), this is how I rate my skills from 5 years of my geophysical survey experience.

Geophysical Data Acquisition 80%
Geophysical Data Processing 80%
Geophysical Data Interpretation 70%
Project Management 60%

Gold Exploration at Pinoh, Kalimantan Barat (2017)

96 km length survey using ground magnetic methods with Geometric PPM G-856, resulting geological structure and lithology interpretation based on total magnetic intentsity map.

Utility Survey at Karawang, Jawa Barat (2017)

Ground Penetrating Radar (GPR) survey using GSSI SIR-3000 and 400 MHz antenna, resulting GPR profile with utility (i.e. buried pipeline, powerline, etc) location and depth interpretation.

Gold Exploration at Kelantan, Malaysia (2016)

Time Domain Induced Polarization (TDIP) survey with dipole-dipole configuration using AGI SuperSting R8, resulting resistivity and IP map with lithology, alteration and mineralization interpretation.

Groundwater Investigation at Pongkor, Jawa Barat (2015)

Resistivity survey with Wenner configuration using IRIS Syscal Junior, resulting resistivity 1D and 2D profile with groundwater location interpretation.

Nickel Exploration at Buli, Maluku Utara (2013)

Estimating laterite thickness (detpth-to-bedrock) for nickel exploration, supporting drilling data, using Wenner configuration resistiity methods (with IRIS Syscal Jr.) and GPR methods (with GSSI SIR-3000).

Gold Exploration at Oksibil, Papua (2012)

Ground magnetics survey using Geometrics PPM G-856 and CS-AMT (Controlled-source Audio-frequency Magnetotelluric) survey using Phoenix T3 and V8, resulting TMI and Resistivity profile and Map with geological structure, lithology, and alteration interpretation.

0
All geophysical project
0
Geophysical Project for Mineral Exploration
0
Geophysical Project for Geotechnical Purpose
0
Geophysical Project for Environmental Purpose
  • Pinoh Project (Part 2): Transportasinya yang Bikin Bilang, 'Yaelah'!

    Salah satu ruas jalan yang menghubungkan Nanga Pinoh dan Nanga Sokan (Maret 2017).
    Salah satu "kenikmatan" bagi orang lapangan ketika sedang perjalanan menuju tempat kerjanya adalah merasakan sensasi melewati jalan yang seperti ada di foto di atas. Tapi bukan pengalaman di atas doang yang butuh gue tulis di sini, karena ternyata perjalanan hingga sampai ke camp memakan waktu 4 hari. Anda gak salah dengar: 4 HARI!

    18 Maret 2017
    Gue udah berangkat sebelum subuh dari Pasar Minggu menuju bandara Soetta untuk mengejar pesawat pukul 6.50. Perkiraan gue adalah perjalanan sampai ke camp cuma memakan waktu 2 hari berdasarkan pengalaman gue waktu survey sebelumnya ke area ini. Tapi ternyata gue salah. Flight pertama menuju Pontianak berjalan lancar, gue sampai sesuai jadwal, yaitu pukul 8.20. Sekitar jam 9, setelah ambil bagasi yang sebareg, gue udah ngacir masuk untuk check-in penerbangan selanjutnya. Ternyata penerbangan selanjutnya di-cancel karena alasan yang tidak diberikan oleh pihak maskapai. Gue diberikan pilihan: refund atau re-schedule fight sorenya. Karena pilihan maskapai yang ke Sintang cuma ada 2, Kalstar dan Garuda, gue putuskan untuk re-schedule, karena gue tahu bahwa Garuda sudah 10 menit yang lalu lepas landas dan gue gak mau membuang waktu sehari.
    Lima jam gue nungguin di bandara. Setelah waktunya check-in, gue dapat kabar lagi bahwa pesawat sore juga di-cancel dengan alasan yang juga tidak diinformasikan. Gue refund akhirnya dan langsung beli tiket Garuda untuk besok yang harganya ternyata melambung. Gue bermalam di Pontianak akhirnya.

    19 Maret 2017
    Penerbangang ke Sintang berjalan lancar. Gue tiba di Bandara Susilo Sintang pukul 9.40. Karena bakalan terlalu sore jika gue langsung menuju Nanga Sokan, akhirnya gue menginap di Nanga Pinoh, sekitar 2 jam perjalanan dari Sintang. Di samping itu gue harus mengambil baterai alat yang dikirim melalui jalur laut Jakarta-Pontianak dan jalur darat Pontianak-Nanga Pinoh.
    Salah satu pemandangan menakjubkan ketika pesawat akan mendarat di Bandara Susilo, Sintang.


    20 Maret 2017
    Sekitar jam 10 gue berangkat bareng Pak Fuon menggunakan mobil dobel gardannya.
    Alat magnetik dan beberapa logistik siap diberangkatkan.
    Normalnya, perjalanan dari Nanga Pinoh menuju Nanga Sokan hanya berkisar sekitar 4-5 jam. Tapi di bulan Maret itu ternyata jalan sedang dalam keadaan hancur. Hujan menjadi penyebab ruas jalan sebagian besar belum beraspal itu menjadi semakin parah. Sebenarnya masih ada satu jalur lagi, yaitu jalur sungai yang ternyata hanya memakan waktu 3 jam saja. Tapi ternyata air sedang surut dan perahu gak akan bisa lewat. Karena kondisi jalan yang parah, gue tiba di Nanga Sokan setengah 6 sore. Badan gue remuk karena mobil yang cuma satu kabin itu harus diisi oleh kami bertiga: gue di tengah, Muklis, dan Pak Fuon. Karena gak memungkinkan untuk langsung menuju camp, kami terpaksa untuk menginap di Nanga Sokan.
    Sungai Pinoh yang merupakan muara Sungai Sokan, membelah kota kecamatan Nanga Sokan menjadi 3 area.
    21 Maret 2017
    Perjalanan berlanjut, kali ini lewat sungai. Beruntung ternyata airnya sedang pasang, sehingga perjalanan dengan durasi sekitar 2 jam itu berjalan lancar. Perjalanan ke camp di Desa Teluk Pongkal melewati beberapa desa dan kampung, yaitu Desa Telaga, Desa Sijau, Kampung Kepaladaak, dan Kampung Pahat.
    Desa Sijau ditangkap dari atas sampan motor yang sedang melewati Sungai Sokan.
    Oke, segitu dulu untuk part ini. Akan gue sambung lagi nanti.
  • Pinoh Project (Part 1): Pembukaan

    Tim survey magnetik di depan outcrop Andesit Porfiritik dari Formasi Gunung Kerabai (Dari kiri-kanan: Onjul, gw, Nur, sama Rijal)
    Setelah Mei tahun kemarin, praktis gue gak pernah posting tentang project survey geofisika. Bukan berarti habis dari Malaysia kemarin gak ada project lagi, tapi durasi project yang cuma beberapa hari doang bikin gue malas untuk menuliskannya di blog ini. Kali ini karena gue lama di lapangan, dua bulan lebih, banyak cerita yang menurut gue menarik untuk ditulis. Dan biar lebih rapi dan kemungkinan tulisannya bakalan panjang, ceritanya bakalan gue bagi ke dalam beberapa postingan blog. Jumlah postingannya belum bisa gue sebutkan, karena bakalan tergantung dari mood gue. Yang jelas postingan pertama gue bakalan bertema tentang perjalanan gue ke sana.
  • Sony VAIO Repair Saga Continues..

    Oke, jadi gue lagi agak malas aja nulis blog. Emang banyak banget alasan buat gak nulis. Yang paling jadi hambatan gue beberapa bulan ini adalah ngadatnya laptop gue untuk yang kesekian kalinya..

    Laptop gue, Sony VAIO SVF14416SGW, yang udah menemani gue ke mana-mana selama hampir 3 tahun ini..


    Maret 2016
    Layar laptop gue adalah korban pertama yang butuh perhatian. Gara-gara cerobohnya gue menjejalkan barang-barang yang lumayan berat ke dalam tas laptop dengan alasan efisiensi tempat, layar laptop gue jadi bergaris a.k.a bergaris. Akhirnya gue putusin buat cabut ke Mangga Dua karena gue tau di sana ada Sony Center. Setelah gue jelasin keluhan gue ke petugas di Sony Center gue kaget waktu dijelasin bahwa harus diganti semua bagian layarnya dengan total biaya 4,6 juta. Buset. Mendingan gue beli laptop baru sekalian.
    Akhirnya gue putusin buat servis di tempat lain yang gak resmi. Gue nemu tempat servis yang sanggup repair dengan harga 1,2 juta (saja). Setelah nunggu beberapa jam, laptop gue bisa diperbaiki. Sempet gue bawa ke lapangan juga beberapa minggu berikutnya.

    Agustus 2016
    Laptop gue ngadat lagi. Kali ini keyboardnya yang bermasalah. Dan gue yakin masalahnya karena pernah ketumpahan kopi tahun lalu. Sebenarnya beberapa kali keyboard gue ada tombolnya yang bermasalah, tapi hanya temporer doang. Tapi kali ini beda, karena tombol Z-X-V-N-M-left-up-right-down gue bener-bener gak bisa ditekan. Akhirnya begitu ada kesempatan ke Jakarta gue perbaiki lagi ke tempat yang sama. Kali ini gue abisin 600rb buat ganti keyboard. Setelah gue coba keyboardnya dan ternyata oke, gue balik ke kosan.
    Ketika gue coba nyalain di kosan, laptop gue overheat dan langsung mati. Gue nyalaiin lagi, mati lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya gue balik lagi dong ke tempat servisnya. Laptop gue didiagnosa VGA-nya bermasalah. Gue lemes dong.
    Belum nyerah, gue bawa ke Sony Center di Jogja. Ternyata cuma bermasalah di kipas yang nempel di motherboard. Sedikit lega ketika gue cuma menghabiskan 300ribu doang. Beberapa hari berikutnya giliran software gue yang kena. Windows gue corrupt, gue balik ke Sony Center. Setelah beberapa hari, ternyata laptop di Windows gue gak berhasil direcovery. Akhirnya gue harus puas dengan Windows yang gue pasang sendiri.

    Oktober 2016
    Gue nulis postingan ini sambil nahan tangan gue yang dingin akibat gue pasang kipas dengan kecepatan maksimal yang diarahkan ke arah laptop. Sepertinya kipas laptop gue bermasalah lagi. Mana udah lewat sebulan lagi dari servis sebelumnya. Haduh. Itupun settingan CPU clocknya gue batesin cuma 60 persen. Lewat dari itu, suhu langsung naik. Solusi jangka pendeknya paling gue cari kipas eksternal yang dicolok ke USB port laptop. Jangka menengahnya ya gue bawa ke Sony Center lagi. Jangka panjangnya ya, siap-siap nguras rekening gue buat beli laptop baru.
  • Review: Travis - Everything at Once [2016]: Menjadi Dewasa Tidak Sama Dengan Ikut Arus..

    Intro
    Beberapa grup musik yang sudah berumur mungkin perlu mengubah gaya musiknya dengan alasan tertentu. Misalnya demi menggaet pangsa pasar yang lebih luas. Walaupun keuntungannya adalah bisa mendapatkan penggemar baru dari usia yang lebih muda, tak jarang hal ini membuat penggemar lamanya sedikit patah hati. Sepertinya Travis tidak memilih jalan ini, Travis tetap memilih untuk memainkan musiknya dengan ciri khasnya sendiri. Itu yang gue simpulkan untuk dari album terbarunya Travis: Everything at Once.

    Album Artwork
    Gue mulai dari album art. Jika di album sebelumnya yang juga gue review di sini artworknya lebih terkesan alami, di album kali ini Travis lebih memilih cover album yang cenderung minimalis. Menggambarkan kota dengan gedung-gedung berwarna-warni dan jalan lebar di depannya. Artwork ini muncul kembali di music video Magnificent Time yang ternyata gedunganya gak dibuat secara digital, tapi dari potongan kertas karton. Wow!

    Album art Everything at Once




    Track-by-Track Review
    Pertama denger Radio Song sama Everything at Once ingatan gue langsung berasa kembali ke era 90-an dengan gebukan drumnya yang sangat nendang dan gitar elektrik yang bahkan sudah terdengar dari detik pertama, serta bassnya yang terdengar bold. Secara lirik, gue suka pemilihan kata-kata di lirik di Radio Song yang berima: Open your mouth up wide/So we can park a bus inside/How do you sleep at night/With all of the shit you hide/You’re the only one who thinks it’s right/No wonder the bed bugs bite. Kalo yang gue denger sih artinya lebih ke inget seseorang dari lirik lagu yang diputer di radio dan ingin membagikannya ke orang tersebut tapi sudah terlambat. 

    Berbeda dengan dua lagu tadi, All Of The Place dan What Will Come terdengar seperti membawa formulasi musik yang sama dengan album kedua hingga keempat. Terlihat dari gebukan drumnya dan irama gitar yang mirip dengan lagu Sing. What Will Come ini liriknya ngena banget. Tentang kesiapan seseorang yang siap untuk menerima keputusan selanjutnya karena ternyata cinta seseorang yang dia sukai telah berubah.

    Paralysed, 3 Miles High, dan Stranger On Train secara musik lebih mirip dengan album sebelum ini. Khusus untuk lagu Paralysed gue seperti mendengar soundtrack film kolosal China dengan backing vocal mendayu yang terdengar di bagian awal dan akhir dari lagu ini. Yang gue suka dengan 3 Miles High adalah liriknya yang dalam: Everyone has a wall to climb/But we don't really have the time/To give a who-how about it/And your life is a Russian doll/You were given when you were small/And they all inside you.

    Animals, Idlewild,  dan Magnificent Time kalo gue bilang adalah sesuatu yang fresh. Coba aja denger aja bagian chorus-nya Animals, perpaduan drum, gitar, bas, dan biola yang asik dengan pola play-pause-play-pause (gue gak tau istilah yang tepat buat menggambarkannya) bikin mood naik. Magnificent Time ini lebih upbeat dengan genre yang lebih dance. Tanpa unsur EDM yang menjadi genre paling ngetrend saat ini, toh tetap saja Magnificent Time ini berhasil membuat kepala gue menikuti iramanya. Bahkan di video klip dan ketika live, Travis menambahkan gerakan dance-nya yang ini adalah hal baru bagi Travis. Josephine Oniyama digaet oleh Travis untuk berkolaborasi di Idlewild, dan itu berhasil menurut gue. Memang bukan baru pertama kali bagi Travis featuring dengan musisi lain, karena sebelumnya pernah juga dengan KT Tunstall di Under The Moonlight. Tapi yang bikin lagu ini unik adalah gue bisa mendengar Fran Healy, sang vokalis, menyanyikan lirik lagu secara rap. Memang levelnya berbeda dengan Eminem, karena memang bukan spesialisasinya. Yang jelas, perpaduan suara Fran Healy dan Josephine Oniyama berhasil membuat lagu ini menjadi lagu terfavorit gue di album ini.

    Kesimpulan
    Travis, dengan album ini, sekali lagi bisa membuktikan bahwa bagi musisi menjadi dewasa bukan berarti harus mengikuti arus dan tidak mengikuti arus bukan berarti sebuah album tidak layak untuk didengarkan. Jika suka dengan lagu-lagunya Travis di album-album sebelumnya macam Sing, Why Does It Always Rain On Me, Turn, Driftwood, dan lainnya, maka album ini layak dibeli dan didengarkan karena gue yakin lo gak bakal kecewa.
  • Kelantan Project Season 2..

    Ini apa sih? TV Series? Hahaha..

    Iya, jadi bulan lalu gue balik lagi ke Malaysia buat ngerun TDIP.. It's no surprise sih, melihat hasil yang memuaskan di area sebelumnya..

    Worker gue yang lagi membawa passive cable SuperSting.. Ki-Ka: Izat, Badru, Nizam, Daus. (Captured with Sony DSC-WX80)
    Nama areanya adalah Chuchuh Puteri yang masuk dalam wilayah administratif Jajahan (di Indonesia setara Kabupaten) Kuala Krai.. Karena areanya dekat kampung dan tidak memungkinkan untuk flying camp serta keputusan dari client untuk tidak menyewa rumah di sekitaran situ, jadilah kita harus bolak-balik Tanah Merah - Kuala Krai yang memakan waktu 3 jam pulang perginya..

    Kira-kira kayak gini lah rutenya setiap hari..
    Tapi gak masalah.. Itu malah nambah-nambah pengalaman gue.. Misalnya, gue bisa dengerin musik-musik Malaysia lewat radio sepanjang perjalanan.. Radio yang populer di sana adalah Era FM, Nasional FM, dan satu lagi gue lupa namanya.. Dan gue juga bisa mengamati behavior orang-orang di sana ketika mengemudi kendaraannya yang mana super duper rapi dan taat banget sama peraturan.. 

    Udah itu dulu, ntar disambung lagi.. Hehe..
  • Belajar Pegang Mobil..

    Bukan secara harfiah ya.. Gue gak tinggal di kampung yang gak pernah ada mobil dan gak pernah liat mobil.. Yang sekalinya ada mobil langsung pada belajar pegang mobil: pintunya, kacanya, spionnya.. Hahaha.. *Sungguh mukadimah yang garing banget*

    Gue di depan stir di hari kedua gue belajar nyetir.. (Captured with Sony ActionCam HDR-AS20)
    Ternyata bawa mobil (lagi-lagi, bukan harfiah) tuh gak segampang yang gue kira sebelumnya.. Bisa diliat di foto yang atas, walaupun kondisi di luar lagi hujan, gue basah kuyup bukan karena air hujan, tapi keringat.. Gue harus mengatur gas, gigi, kopling, dan rem.. Dan itu cukup menguras energi.. Haha.. Jadi mungkin masih perlu beberapa waktu bagi gue sampe bisa bener-bener bawa mobil.. Tapi, gak papa lah.. Mudah-mudahan cepet bisa.. Oke..
  • ADDRESS

    Gg Tarilah, Kongsijaya 002/001, Widasari, Indramayu, Jawa Barat

    EMAIL

    abi.alghifari@gmail.com
    abi_alghifari@yahoo.com

    PHONE

    +62-812-23001161

    Chat

    +62-812-2300-1161 (WhatsApp),
    D7DC98CC (BBM PIN)